Ludes

Sudah menjadi kebiasaan ibu, saat adek besar akan kembali ke kota tempatnya beraktivitas, selalu ada saja buah tangan yang dibawakan. Ibu akan menyiapkan oleh - oleh ini, jauh hari setelah adek besar memberitahukan kepulangannya. Tapi kali ini berbeda....

"Ntar pulangnya, dibawakan apa?" tanya adek besar ditengah santap siang menjelang sorenya.

"Ha?" aku terkaget. Kepulangannya yang mendadak, membuat ibu tidak menyiapkan apa pun untuk dibawanya. "Anang pulangnya mendadak, sih. Ibu gak nyiapin apa - apa," jelasku seraya memandang ibu.

"Ada rendang dikulkas," ujar ibu. Dan aku tahu maksudnya. Bergegas kukeluarkan tupperware berisi rendang dari freezer. 

"Kalau yang untuk dimakan sekarang, ada gak?" tanya adek besar lagi.

"Lho? Khan baru selesai makan," aku berkata dalam nada heran.

"Bikin cireng ajah," usulnya. Sejak Olah Kita mengeluarkan produk Cireng salju bumbu rujak, adek besar belum pernah mencoba olahan yang satu ini. Aku juga tidak berencana mengirimkan paket cireng untuknya. Karena tidak yakin bisa awet dalam proses pengirimannya.

Aku terpaksa menolak permintaannya untuk membuat cireng, lantaran ada pesanan pempek yang harus kubuat sore ini.

"Pempek ajah, ya," usulku. "Yang frozen," lanjutku. Dia mengiyakan.

Kembali aku menuju kulkas untuk mengeluarkan pempek kemasan frozen yang tersimpan di freezer. Dalam situasi seperti ini, aku merasa sangat beruntung karena Olah Kita memiliki produk frozen yang siap saji. 😄. 

Selang beberapa waktu kemudian...

"Mbak mana?" Tanya adek besar padaku. Dia baru keluar dari kamarnya.

"Ada, tuh. Dikamar. Mungkin lagi tidur," sahutku. "Ada apa?"

"Mau minta antar ke Bandara. Sudah ditunggu temen," jawabnya. Adek besar datang ke Jogja bersama dengan teman - temannya dengan mengendarai mobil. Saat mereka berkeliling kota, dia memilih untuk pulang ke rumah. Dan ketika teman - temannya usai berjalan - jalan, mereka janjian lagi untuk bertemu disekitar bandara. Lokasi paling dekat dari rumah. Itu sebabnya, kepulangannya kali ini hanya beberapa jam saja.

"Trus pempeknya gimana? Mau dibawakan?" tanyaku. Aku ingat pada pempek yang baru saja kukukus.

"Gak usah. Ntar dimakan sambil nunggu mbak siap - siap," ujarnya seraya berjalan ke arah dapur. "Cukanya dimana?" dia bertanya seraya menunjukkan mangkok yang sudah terisi penuh dengan pempek.

"Ada, tuh dikulkas." Sejak Olah Kita mengeluarkan produk pempek dalam kemasan frozen, maka aku tidak pernah absen menyiapkan cuka. Agar ketika ada permintaan mendadak, pempek bisa langsung dikirim tanpa harus menunggu pembuatan cukanya terlebih dulu.

Dan adek besar pun mulai menikmati pempek sambil berbincang dengan ibu diruang makan. Tak berapa lama kemudian, mbak yang sudah siap keluar dari kamar dan adek besar pun pamit untuk kembali ke kota tempatnya beraktivitas.

Apa yang terjadi kemudian?

Ketika aku tengah membereskan meja makan.....

"Bu, cukanya tinggal segini?" tanyaku heran. Cuka yang tadinya dalam satu botol penuh, sekarang hanya tersisa sepertiganya saja.

"Iya," jawab ibu. "Cukanya diminum sama Anang," jelas ibu seraya tersenyum.

Ah, bener - bener kebiasaan orang Palembangnya sudah mendarah daging. Saat makan pempek, cukanya tidak hanya untuk cocolan, tapi juga diminum. Orang Palembang biasa menyebutnya dengan 'ngirup cuko'. 😂.

Posting : Bl

Komentar

Postingan Populer