Celengan Rindu

 Siang hari di rumah....

"Bik.. Bibik..," panggil mbak dari ruang tengah. Dia biasa memanggilku 'bibik' yang berarti tante dalam bahasa Palembang. "Ayo keluar. Ini lho ada adiknya," panggilnya lagi. Dia baru saja datang dari sebuah acara keluarga di Kaliurang.

"Apaa, sih?" jawabku dari dalam kamar.

"Ayo keluar dulu. Lihat siapa yang datang," sahutnya membuatku penasaran.

Dengan tergesa, kukenakan kerudungku lalu bergegas keluar kamar. Dan yang kulihat disana adalah sebuah kejutan..

"Anang? Anang pulang?" Aku terbata. "Ibuuu.. Anang pulang!" teriakku ketika melihat adik besar yang berada dihadapanku.

Sebuah kejutan yang tak terduga. Karena sejak pandemi berlangsung setahun lalu, maka selama itu pula adik besar memutuskan untuk tidak pulang dari kota tempatnya beraktivitas. Alasan utamanya adalah untuk menjaga bapak ibu. Lantaran keduanya memiliki riwayat penyakit dan adik besar tidak ingin menjadi pembawa virus bagi keduanya.

Disepanjang waktu itu pula, komunikasi kami hanya melalui layar ponsel. Berbagi cerita dan saling bertegur sapa. Menahankan kerinduan dengan saling mendo'akan dari jauh. Dia menjadi kerinduan yang teramat sangat bagi bapak ibu. Walau tak terucap, aku tahu sekali betapa keduanya menahankan kerinduan yang mendalam atas kehadiran adik besar.

Maka, ketika siang ini adik besar pulang, tangis bahagia itu pun pecah. Celengan rindu itu telah terpecahkan. Aku melihat pancaran kebahagiaan diwajah bapk ibu.

"Seneng banget, Om pulang," ujar keponakan cantik yang sulung. "Biasanya cuma lihat dilayar ponsel," tambahnya.

Yups! Kami semua merindukan kehadirannya dirumah keluarga besar ini.

Selamat pulang ke rumah, Anang. 😍.

Komentar

Postingan Populer