Video Call
Mencermati situasi dan kondisi yang berkembang belakangan ini, maka Ahad kemarin sekolah memutuskan untuk meliburkan kegiatan belajar dan pengasuhan sementara waktu. Lalu pesan WA kukirimkan sebagai pemberitahuan kepada orang tua murid.
.
Tak berselang lama setelah pesan kukirim, ponselku berbunyi. Sebuah pesan panggilan terdengar, kulihat dilayar tertulis 'Muridku Canayya'.
Aku tidak segera menjawab panggilan. Namun sibuk mencari kerudung yang tadi entah kuletakkan dimana.
.
"Dek, telponnya bunyi, tuh," panggil ibu dari ruang tengah.
.
"Iya. Sebentar. Adek cari kerudung," jawabku dari dalam kamar.
.
"Diangkat dulu telponnya," ujar ibu lagi. Tampaknya beliau sudah merasa bising dengan suara Nathan yang kujadikan nada dering.
.
.
"Iya. Tapi adek harus pakai kerudung dulu. Soalnya ini video call," jawabku menjelaskan sambil mengenakan kerudung yang berhasil kutemukan tergantung di belakang pintu.
.
Yups! Karena 'tidak percaya' saat sang ibu memberitahukan bahwa sekolah libur, Canayya meminta untuk melakukan sambungan telpon denganku. Masalahnya, dia meminta video call.
.
Tampaknya, panggilan suara saja tidak cukup meyakinkan Canayya bahwa yang berbicara itu aku.
Posting : fb

Komentar