Bubur
Saat berwisata kuliner, kami sering sekali memesan makanan yang berbeda. Tujuannya sudah pasti. Agar kami dapat menikmati beragam makanan dalam waktu bersamaan.
.
.
Namun tak semua yang dinikmati bersama itu, menyenangkan. Seperti ini...saat kami mengunjungi sebuah rumah makan yang menyajikan masakan khas rumahan. Mulai dari nasi, sayur, lauk bahkan ada pisang goreng dan beragam bubur.
.
"Mbak ambil bubur dong," pinta adek besar seusai menyantap makanannya.
.
"Masih belum kenyang?" Tanyaku sambil tersenyum. Sebuah pertanyaan yang sering sekali kuajukan saat aku merasa dia harusnya sudah kenyang.
.
.
Tidak menjawab. Dia hanya menampakkan senyum saja.
Maka akupun beranjak ke tempat penyajian bubur. Meminta dua porsi bubur pada sang pelayan. Satu untuknya dan satu untukku.
.
"Kok dua?" Tanya adek besar saat aku kembali dengan membawa 2 piring berisi campuran bubur sumsum, ketan hitam dan mutiara. "Banyak banget."
.
"Ntar mbak bantuin," sahut mbak yang masih menghabiskan sayur dipiringnya. "Tapi jangan diaduk lho," mbak mengingatkan.
.
Adek besar langsung menampakkan wajah 'susah'. Melihat padaku.
.
"Mbak juga gak mau kalau diaduk" jawabku.
.
"Mbak makannya gak diaduk," gantian keponakan cantik yang berkata.
.
Tiga orang yang berbeda. Dan semuanya membahasakan diri pada adek besar dengan panggilan 'mbak'.
.
.
"Gak enak kalau makan bubur gak diaduk," ujar adek besar dengan wajah memelas.
.
"Ya sudah. Kalau diaduk, mbak gak mau bantuin," mbak mengeluarkan ancaman.
.
Maka dengan terpaksa, adek besar mencampur bubur ini disendoknya.
Begitulah dukanya ketika tim diaduk terkalahkan oleh tim tidak diaduk saat makan bubur.
.
Posting : fb
Komentar