Donat

Sambil menunggu saatnya belajar, anak - anak bermain dengan permainan pilihan masing - masing. Hana tampak bermain bersama Nathan. Bermain peran sebagai penjual donat. Balok - balok warna berbentuk lingkaran, tampak ditata layaknya donat yang ada di toko. Sesekali mereka berteriak menjajakan dagangannya.

"Donat.. Donat.. Ayo beli donat," begitu Nathan memulai.

"Donat.. Donat," Hana mengikuti.

"Ibu mau beli donatnya. Satu ajah. Yang rasa strowberi," ibu guru turut serta bermain peran sebagai pembeli.

Maka Hana pun sibuk menyiapkan donat sesuai pesanan. Diambilnya salah satu balok warna berbentuk lingkaran berwarna merah. Kemudian melakukan gerakan seolah - oleh mengoleskan sesuatu, dengan menggunakan balok panjang. Setelah itu menyerahkannya pada ibu guru.

"Ini donatnya. Rasa strowberi."

"Terima kasih Hana. Hhmmm enak," ibu guru berakting. Seakan - akan makan donat. "Berapa harganya?" tanya ibu guru.

"Satu."

"Satu apa?"

"Satu ribu," jawab Hana.
Jadi, di sekolah, anak - anak sering sekali mengucapkan kata 'seribu' dengan 'satu ribu'. Atau 'seratus' dengan 'satu ratus'. 😁.

"Ini uangnya," ibu guru berpura - pura memberi uang.

Hana pun menerima uangnya. Dan apa yang terjadi? Dia memasukkan uang tersebut ke dalam mulut dan berkata, "Hhhmmm enak."

Lha? Kok uangnya dimakan? 😂.

(Posting : fb)

Komentar

Postingan Populer