Terkunci

Sekarang kami harus berhati - hati saat berada diluar rumah. Mengapa? Karena kejadian seperti ini sudah beberapa kali berulang...

"Zeezee mau ikut Tiya," teriak Zee seraya berlari menyusulku. Aku tengah berjalan ke halaman belakang untuk mengambil pakaian di jemuran.

"Gak usah. Didalam saja. Diluar panas. Silau," jawabku panjang.

Tapi Zee tak menggubris jawabanku. Dia terus saja menyusulku. Sampai di mushola yang menghubungkan ruang dalam dan teras belakang, Zee berhenti. Kali ini dia percaya bahwa diluar silau dan batita ini tidak suka silau matahari. Dia akan bersin - bersin. 😁.

Sebagai gantinya, Zee memainkan gerendel pintu mushola. Dinaikturunkannya berulangkali.

"Gak mainan gerendel, ya. Ntar kejepit," ujarku dari luar. Tapi Zee tetap asyik dengan mainannya ini.

"Zenatta Ahmad," panggilku lagi. Dan seketika suara gerendel pintu berhenti. Sebuah cara ampuh untuk menghentikan Zee ketika dia mulai 'aneh - aneh'. 😂.

Tak lama kemudian aku hendak beranjak masuk ke dalam dengan pakaian yang sudah kering. Tapi apa yang terjadi? Pintu terkunci dari dalam.

"Zee, kok Tiya dikunciin? Buka dong. Tiya mau masuk, nih," panggilku pada Zee yang entah sedang dimana.

Kulihat dari baik pintu besi, Zee berlari ke arahku 

"Gerendelnya dibuka. Tiya mau masuk," aku mengulang perintah sebelumnya.

Dengan wajah polos disertai senyum terkembang serta mata yang berbinar - binar, Zee menatapku dan berkata, "Tiya diluar?"

Lha? Gimana, sih? Khan dari tadi juga lihat kalau Tiya diluar.

Komentar

Postingan Populer