Kembar?
Bertemu dengan dokter ibu dan bapak, selalu saja ada cerita yang
menyertainya. Seperti kali ini, saat aku mengantar ibu untuk kontrol
rutin..
"Assalamu'alaikum, ibu," sapa sang dokter saat kami
memasukki ruang prakteknya. Selalu begitu. Beliau sangat ramah pada
pasiennya.
Sambil menjawab salam, kami duduk dihadapannya. Sebuah
meja yang sudah dibatasi dengan tabir plastik dan beliau yang memakai
baju pelindung khusus.
"Hasil laboratoriumnya mana?" Tanya beliau seraya membolak balik rekam medis ibu.
"Dokter belum kasih pengantar," jawabku. Aku ingat, kemarin mbak bilang kalau ibu harus periksa laboratorium dibulan September.
"Seharusnya
bulan ini," ujarnya. "Saya sudah tulis disini," beliau menunjuk catatan
yang dibuatnya. "Kemarin tidak minta pengantar pada suster?" Tanyanya.
"Oiya? Mungkin mbak lupa memintanya dokter," jawabku.
"Lho? Ini bukan yang biasanya mengantar ibu?"
"Bukan dokter. Saya adiknya. Yang biasanya, tuh mbak," aku menjelaskan.
"Begitu, ya? Gini, nih kalau kembar. Saya jadi bingung mengenalinya," protes kecil pun dilontarkan sang dokter.
Aku dan ibu tertawa geli. Beliau masih saja menganggap aku dan mbak sebagai anak kembar.
Sehat terus ibu...
Posting : Kn
Komentar