Lupa
Percayalah... memasak bersama ibu, selalu saja ada cerita yang menyertai. Dan itu... seru!! 
.
Seperti pagi ini...
.
"Jangan lupa ketannya, Bu," ujarku mengingatkan ibu.
Pagi ini, ibu akan membuat lemet pisang. Sebuah makanan tradisional yang terdiri dari pisang yang dihaluskan. Dicampur beras ketan dan parutan kelapa. Diberi garam sedikit. Kemudian dibungkus daun pisang dan dikukus.
.
"Iya. Sudah disiapkan didapur," jawab ibu seraya menyusun daun pisang diatas meja makan.
.
Dan aku pun berlalu dari ruang makan. Beranjak membersihkan rumah.
.
Sekitar 20 menit kemudian, ketika aku sudah mulai menyapu bagian dapur...
.
"Tadi kelapa parutnya lupa. Gak dimasukkan adonan," ibu memberitahu tanpa kutanya.
Kulihat ibu tengah membuka satu persatu adonan lemet yang sudah dibungkus daun pisang. Memasukkan dalam baskom dan mencampurkan kelapa parut ke dalamnya.
.
"Tadi sudah adek ingetin lho, ya," ujarku seraya tertawa geli.
.
Kalau orang Jawa, sih bilangnya 'mindon gaweni' alias dua kali kerja.
.
.
Seperti pagi ini...
.
"Jangan lupa ketannya, Bu," ujarku mengingatkan ibu.
Pagi ini, ibu akan membuat lemet pisang. Sebuah makanan tradisional yang terdiri dari pisang yang dihaluskan. Dicampur beras ketan dan parutan kelapa. Diberi garam sedikit. Kemudian dibungkus daun pisang dan dikukus.
.
"Iya. Sudah disiapkan didapur," jawab ibu seraya menyusun daun pisang diatas meja makan.
.
Dan aku pun berlalu dari ruang makan. Beranjak membersihkan rumah.
.
Sekitar 20 menit kemudian, ketika aku sudah mulai menyapu bagian dapur...
.
"Tadi kelapa parutnya lupa. Gak dimasukkan adonan," ibu memberitahu tanpa kutanya.
Kulihat ibu tengah membuka satu persatu adonan lemet yang sudah dibungkus daun pisang. Memasukkan dalam baskom dan mencampurkan kelapa parut ke dalamnya.
.
"Tadi sudah adek ingetin lho, ya," ujarku seraya tertawa geli.
.
Kalau orang Jawa, sih bilangnya 'mindon gaweni' alias dua kali kerja.
Posting : Ig
Komentar