Nyawa
Ketika waktunya tidur siang, maka Jihan yang mengaku sebagai anak paling cantik, akan tidur paling awal dan nanti bangunnya menjadi paling akhir.
.
Tak heran bila kemudian Jihan lebih sering menjadi anak yang paling akhir juga dijemputnya. Lantaran sang ibu harus menunggunya selesai mandi terlebih dahulu.
.
Dan inilah ceritanya...
.
"Bu, Jihan kok belum masuk kamar mandi?" Tanya ibu guru yang bertugas memandikan anak - anak padaku.
.
"Ha? Iya aku lupa," jawabku.
Hari itu tidak biasa. Lantaran langit tampak menggantungkan mendung disana. Tanda - tanda hujan akan turun. Karenanya banyak orang tua yang menjemput anaknya lebih awal. Itu pula yang menyebabkan aku tidak memperhatikan bila ternyata Jihan masih lelap dalam tidurnya dan belum dibangunkan.
.
Aku pun segera membangunkan gadis cilik ini dengan menggendongnya. "Ayo bangun anaknya Bu Yayuk," ujarku.
.
Jihan yang sekarang berada dipangkuanku segera membuka lebar matanya. Melihat sekelilingnya dengan malas.
.
"Ayo Jihan. Mau mandi gak?" Tanya ibu guru yang menunggunya dikamar mandi. "Main pancuran, nih," beliau menunjukkan air yang keluar dari slang.
.
Mendengar kata air mancur dan melihat air yang mengucur deras, Jihan langsung turun dari pangkuanku.
.
"Mandi," dia berkata padaku. Minta dibukakan bajunya.
.
"Ha? Cepat sekali proses 'pengumpulan' nyawanya', aku terkagum - kagum.
Dan saat hal ini kuceritakan pada ibu guru lainnya, beliau berpendapat bahwa saat tidur, nyawanya Jihan tidak pergi kemana - mana. Hanya berdiam disekitarnya saja. Maka tak heran bila dibangunkan, nyawanya cepat sekali berkumpul. Sehingga bisa segera minta mandi tanpa menunggu lama.
.
Sambil tidak percaya, aku bergumam sendiri, 'memang bisa gitu, ya?'
.
.
Posting : fb
Komentar