Nyaman
Sejak awal masuk ke Amalia, aku tidak dekat dengan Varo. Salah satu penyebabnya karena aku tidak pandai menggunakan bahasa jawa. Padahal untuk berkomunikasi dengan Varo, dibutuhkan kefasihan berbahasa Jawa. Sekalipun bukan bahasa Jawa halus. Lantaran urusan bahasa ini pula, aku sering tidak nyambung ketika berbicara dengannya.
.
Selain itu, suara yang lebih tinggi nadanya, membuat kesan yang 'menakutkan' bagi anak - anak tertentu. Termasuk Varo.
.
Dan inilah yang terjadi kemudian...
.
"Varo masih belum tidur, bu?" Aku bertanya pada salah satu ibu guru yang tengah menidurkan Varo.
.
"Belum, nih."
.
"Kalau gitu, kita tukar ajah," pintaku. Saat itu, aku tengah bersama Rafif. Dia masih asyik berguling ke sana ke mari. Menghabiskan energi berlebih yang dimilikinya. Sebelum akhirnya lelah dan terlelap.
.
"Biar saya yang tidurkan Varo. Ibu yang nemenin Rafif," ujarku.
.
"Gak boleh! Bu Yayuk gak boleh sama Varo," posesif si Abang mulai keluar.
.
"Nanti ibu ke sini lagi. Sekarang ibu tidurkan Varo dulu," aku berkata tegas. Tidak menyisakan ruang tawar menawar untuknya.
.
Aku segera meninggalkan Rafif yang melampiaskan kemarahannya karena kutinggalkan, dengan semakin banyak lagi berguling - guling dikasurnya. Itu artinya, akan semakin cepat lelah dan semakin cepat pula terlelap.
.
.
Kubaringkan badan disebelah Varo. Kuusap punggungnya. Salah satu cara menidurkan yang biasa dilakukan ibu guru.
.
Tapi Varo menepiskan tanganku. Membalikkan badan dan meletakkan telapak tangannya diatas telapak tanganku yang terbuka. Menggenggam dengan erat. Ternyata Varo sama seperti Abang. Memilih tidur dengan memegangi tanganku.
.
Hmmm... tampaknya Varo sudah nyaman dengan Bu Yayuk..
.
Posting : fb
Komentar