Lelah
Setiap kegiatan yang diadakan di sekolah, selalu saja dimaknai ibu guru
dengan 'bermain sambil belajar'. Karena selalu ada proses belajar yang
didapat anak saat mereka bermain atau berkegiatan.
Seperti makan siang..
Kegiatan ini melatih anak untuk mandiri. Salah satu indikator perkembangan pada aspek sosial emosional. Karena ibu guru membiasakan mereka untuk makan sendiri tanpa dibantu.
Makan sendiri berarti anak dilatih untuk memegang benda pipih. Sebuah tahapan sebelum nantinya mereka belajar memegang alat tulis. Dan ini adalah indikator pada aspek perkembangan motorik. Khususnya motorik halus.
Anak juga dapat belajar tentang makanan sehat. Karena dalam satu piring terdapat nasi, sayur, lauk. Sedangkan buah sudah dimakan sebelumnya. Makanan sehat terdapat pada aspek perkembangan motorik. Yaitu motorik kasar. Salah satu indikator kemajuan perkembangan belajar anak.
Dalam makanan yang beraneka ragam, anak dapat dikenalkan dengan beragam warna sayuran atau buah. Juga beragam ukuran dari potongannya. Hal ini menjadi bagian dari aspek perkembangan kognitif.
Yang tak kalah penting, ada kegiatan berdoa sebelum dan sesudah makan. Anak juga dikenalkan tata cara makan. Yang merupakan indikator perkembangan pada aspek nilai agama dan moral.
Intinya, sesederhana apapun kegiatan bermain anak, selalu saja ada proses belajar yang mereka lalui. Ibu guru selalu menghargai setiap proses belajar ini. Sedangkan hasil yang didapat adalah bonus dari proses panjang belajarnya.
Jadi, bila saat makan sendiri ada banyak makanan yang terjatuh dan membuat lantai menjadi kotor, hal itu dapat diminimalisir dengan mengajak anak membersihkan sisa makanan yang terjatuh. Misalnya dengan lomba bersama teman. Lomba yang paling sedikit makanan yang terjatuh. Dan dia menjadi pemenang.
Namun, layaknya anak lain, pasti ada saat dimana kegiatan makan menjadi hal yang tidak mengenakkan. Terlebih ketika teman lainnya sudah selesai makan dan bermain.
Ini contohnya...
"Hana, ayo dimakan. Tinggal Hana sendiri lho. Temen - temen sudah selesai makannya," ibu guru mengingatkan Hana.
Saat itu, anak yang lain sudah mulai bermain lagi. Sementara Hana justru masih menyisakan makanan dipiringnya.
"Aku capek," jawab Hana dengan wajah sedih. "Tanganku sakit," lanjutnya seraya menunjukkan tangan kanannya pada ibu guru.
Sambil menahan tawa ibu guru segera mengambil alih piring dan sendok. Menyuapkan nasi ke mulut Hana. Dan taraaaa... hanya beberapa suap saja makanan telah habis.
Tahukah? Sakit tangan adalah alasan klise yang sering sekali didengungkan anak - anak saat mereka sudah malas menyelesaikan makan siangnya. 😂.
Seperti makan siang..
Kegiatan ini melatih anak untuk mandiri. Salah satu indikator perkembangan pada aspek sosial emosional. Karena ibu guru membiasakan mereka untuk makan sendiri tanpa dibantu.
Makan sendiri berarti anak dilatih untuk memegang benda pipih. Sebuah tahapan sebelum nantinya mereka belajar memegang alat tulis. Dan ini adalah indikator pada aspek perkembangan motorik. Khususnya motorik halus.
Anak juga dapat belajar tentang makanan sehat. Karena dalam satu piring terdapat nasi, sayur, lauk. Sedangkan buah sudah dimakan sebelumnya. Makanan sehat terdapat pada aspek perkembangan motorik. Yaitu motorik kasar. Salah satu indikator kemajuan perkembangan belajar anak.
Dalam makanan yang beraneka ragam, anak dapat dikenalkan dengan beragam warna sayuran atau buah. Juga beragam ukuran dari potongannya. Hal ini menjadi bagian dari aspek perkembangan kognitif.
Yang tak kalah penting, ada kegiatan berdoa sebelum dan sesudah makan. Anak juga dikenalkan tata cara makan. Yang merupakan indikator perkembangan pada aspek nilai agama dan moral.
Intinya, sesederhana apapun kegiatan bermain anak, selalu saja ada proses belajar yang mereka lalui. Ibu guru selalu menghargai setiap proses belajar ini. Sedangkan hasil yang didapat adalah bonus dari proses panjang belajarnya.
Jadi, bila saat makan sendiri ada banyak makanan yang terjatuh dan membuat lantai menjadi kotor, hal itu dapat diminimalisir dengan mengajak anak membersihkan sisa makanan yang terjatuh. Misalnya dengan lomba bersama teman. Lomba yang paling sedikit makanan yang terjatuh. Dan dia menjadi pemenang.
Namun, layaknya anak lain, pasti ada saat dimana kegiatan makan menjadi hal yang tidak mengenakkan. Terlebih ketika teman lainnya sudah selesai makan dan bermain.
Ini contohnya...
"Hana, ayo dimakan. Tinggal Hana sendiri lho. Temen - temen sudah selesai makannya," ibu guru mengingatkan Hana.
Saat itu, anak yang lain sudah mulai bermain lagi. Sementara Hana justru masih menyisakan makanan dipiringnya.
"Aku capek," jawab Hana dengan wajah sedih. "Tanganku sakit," lanjutnya seraya menunjukkan tangan kanannya pada ibu guru.
Sambil menahan tawa ibu guru segera mengambil alih piring dan sendok. Menyuapkan nasi ke mulut Hana. Dan taraaaa... hanya beberapa suap saja makanan telah habis.
Tahukah? Sakit tangan adalah alasan klise yang sering sekali didengungkan anak - anak saat mereka sudah malas menyelesaikan makan siangnya. 😂.
Posting : fb
Komentar