Galak
Salah satu indikator perkembangan anak pada aspek sosial emosional adalah terbiasa mengembalikan mainan / barang pada tempatnya semula.
.
Ibu guru disekolah, melatih anak - anak untuk terbiasa meletakkan benda pada tempatnya. Seperti mengembalikan mainan seusai bermain, meletakkan sepatu dirak. Juga meletakkan buku seusai membaca pada tempat yang disediakan.
.
Dan inilah ceritanya...
.
"Anak - anak, kita mau makan siang. Jadi, silakan bereskan kembali mainannya," ibu guru memberikan perintah menjelang makan siang.
.
Maka anak - anak pun mulai membereskan sendiri mainan pilihan mereka. Meletakkan dalam keranjang - keranjang dan mengembalikan dirak mainan dipojok kelas.
.
"Mye, ayo bereskan mainannya," kudengar ibu guru mengingatkan Myesha. Balok warnanya masih berserakan. Sementara dia terlihat memegang sebuah balok berbentuk setengah lingkaran. Meletakkan ditelinga kanannya. Seraya berbicara sendiri. Tampak seperti orang yang tengah menelpon.
.
"Mye, ayo. Teman - teman sudah menunggu lho," ibu guru kemballi mengingatkan beberapa waktu kemudian. Tapi Mye tampak belum selesai juga 'bicara' dengan lawan bicaranya diujung telpon.
.
Yang terjadi kemudian... adalah sebuah sandiwara satu babak...
.
"Halo. Saya ibunya Mye. Maaf, ya. Mye mau makan dulu. Telponnya diteruskan nanti lagi. Selamat siang," aku memegang balok bentuk silinder untuk dijadikan telpon dan berpura - pura bicara dengan seseorang diujung sana. "Mye, sekarang bereskan mainannya, ya. Nanti boleh telpon - telponan lagi," aku berkata pada Myesha.
.
Tanpa bicara, Myesha membereskan mainannya dan duduk bergabung dengan teman lainnya untuk berdo'a sebelum makan siang.
.
Sementara aku merasa telah menjadi 'ibu yang galak banget'. Yang dengan mudahnya memutus 'pembicaraan telpon' anak gadisnya.
.
Posting : fb
Komentar