Tertuduh
Hari ini, anak - anak dikelas 2 - 3 tahun
belajar di sentra balok. Itu berarti mereka diminta untuk membangun
sesuatu menggunakan balok unit..
Tema bangunan yang diberikan ibu guru kali ini adalah sekolahan. Tapi, sesuai dengan tahap perkembangannya, maka mereka baru sebatas menyusun balok berjajar seperti kereta atau ke atas layaknya menara.
.
Dan inilah ceritanya...
.
Sesuai dengan tugas yang diberikan padaku, maka sepanjang waktu anak - anak belajar, aku pun mondar - mandir ke masing - masing kelas untuk mengabadikan kegiatan mereka.
.
Saat akan beranjak ke kelas 3 - 4, setelah mengambil gambar anak - anak kelas 4 - 5, aku melewati Ariq yang tengah menyusun balok tinggi menjulang.
.
Lewat satu meter darinya, tiba - tiba susunan balok ini runtuh dan berjatuhan. Menimbulkan suara berisik.
.
Aku yang terkejut segera berbalik badan untuk melihat apa yang terjadi. Kudapati Ariq yang tertunduk sambil cemberut.
.
"Ibu gak ngapa - ngapain lho," aku langsung membuat pembelaan. "Tadi gak nyenggol baloknya Ariq," lanjutku.
.
Tapi Ariq tampak tak menerima pembelaanku. Dia tetap saja menekuk wajahnya. Melihatku dari ekor matanya. Tatapan matanya seakan tak percaya dengan apa yang kukatakan.
.
"Beneran! Ibu gak bohong!" Aku masih mencoba membela diri. "Ibu cuma lewat. Gak jatuhin baloknya Ariq," aku berkata sungguh - sungguh.
.

Kembali Ariq tak menggubris penjelasanku. Masih tetap cemberut.
.
Dan aku pun mengalah. 😁.
.
"Iya. Ibu salah. Nih, ibu perbaiki lagi menaranya," aku berkata sambil menyusun lagi balok silinder yang berhamburan di lantai.
.
Melihat menaranya sudah kembali tersusun, Ariq langsung menyunggingkan senyum dan kembali ceria.
.
Tinggallah aku 'yang tak terima'. Karena sudah menjadi 'tertuduh'. 😂.
(Posting : ig)
Komentar