Sepatu Kesayangan
Di sekolah, ibu guru membiasakan anak untuk mandiri. Melakukan hal - hal
sederhana yang bisa mereka lakukan sendiri. Tanpa bantuan..
Misalnya : memakai baju, mengambil air minum, memakai sepatu sendiri, makan siang.
.
Hal kecil, yang mungkin saja saat di rumah, mereka masih sering dibantu. Apakah lalu di sekolah mereka tidak dibantu bila melakukan kegiatan tersebut? Tentu saja ibu guru tetap akan memberi bantuan bila perlu. Tapi, selama anak mampu melakukan sendiri, ibu guru akan 'menahan diri' dari memberi bantuan. Walau mungkin jadi terasa lama.
.
Seperti saat makan, yang membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan bila disuapi. Atau memakai sepatu yang kadang kesulitan memasukkan kaki karena posisi kanan dan kirinya yang salah.
.
Dan inilah ceritanya..
.
Pagi hari, Nino datang dengan muka ditekuk berlapis - lapis.
.
"Ini lagi marah, bu," lapor sang ibu. "Ngotot mau pakai sepatu yang merah."
.
Untuk diketahui, sepatu warna merah ini sudah sempit untuk kakinya Nino.
.
Sore harinya...
.
"Nino, sekalian ambil sepatunya, ya. Sudah dijemput ibu," aku memberitahu Nino yang sedang berjalan ke belakang untuk meletakkan handuk seusai mandi sore.
.
Tak berapa lama, Nino masuk kembali dengan membawa sepatu merahnya.
.
"Dipakai, ya No," aku memberi perintah.
.
Nino mulai sibuk memasukkan kaki kecil di sepatu yang kecil juga. Terlihat kesusahan. Tentu saja. Karena sebenarnya sepatu ini sudah terlalu sempit untuk kakinya yang sekarang.
.
"Mbak Yayuk, tolong," pintanya dengan wajah putus asa.
.
"Susah, ya? Khan ibu sudah bilang, sepatu ini sudah sempit," aku berkata dengan nada 'mengomel'.
.
"Nino syuka syepatu ini," jawabnya memelas.
.
"Iya. Tapi sepatu ini sudah sempit. Tadi yang pilih sepatu ini siapa?" Tanyaku.
.
"Ayah!" Jawabnya mantap.
.
Welaaahh... sudah pintar cari 'kambing hitam', nih..
(Posting : ig)
Komentar