Heran
Jangan bosan, yaaaa... karena ini masih tentang Azel..
Pagi hari ketika datang, dia masih menangis. Namun saat kuulurkan tangan untuk mengambilnya dari gendongan sang mama, dia menerima uluran tanganku. Maka aku mengambilnya, membawanya ke depan jendela. Untuk melambaikan tangan sabagia tanda perpisahan pada mama.
Sedetik mamanya berlalu...
"Hape, mbak Yayuk. Telpon mama," pintanya.
Ha?
"Zel, mama khan baru ajah pergi. Masak, sih sudah ditelpon. Nanti dulu, ya," ujarku seraya menggandeng tangannya. Mengajaknya meletakkan sepatu di rak.
"Mama dimana? Telpon mama," rengeknya dalam tangis.
"Mama dimana? Lagi ngapain? Sekarang ada dimana?" Aku menirukan rengekan Azel seraya melagukannya seperti Andika Kangen Band. 😜.
Dan Azel menghentikan tangisnya sambil menatapku aneh. Seakan bertanya, "Ibu sehat?" 😁.
Aku tergelak sendiri melihat tatapan matanya. Juga dengan lagu yang baru saja kunyanyikan.
Tapi setidaknya, dia berhenti menangis.
Pagi hari ketika datang, dia masih menangis. Namun saat kuulurkan tangan untuk mengambilnya dari gendongan sang mama, dia menerima uluran tanganku. Maka aku mengambilnya, membawanya ke depan jendela. Untuk melambaikan tangan sabagia tanda perpisahan pada mama.
Sedetik mamanya berlalu...
"Hape, mbak Yayuk. Telpon mama," pintanya.
Ha?
"Zel, mama khan baru ajah pergi. Masak, sih sudah ditelpon. Nanti dulu, ya," ujarku seraya menggandeng tangannya. Mengajaknya meletakkan sepatu di rak.
"Mama dimana? Telpon mama," rengeknya dalam tangis.
"Mama dimana? Lagi ngapain? Sekarang ada dimana?" Aku menirukan rengekan Azel seraya melagukannya seperti Andika Kangen Band. 😜.
Dan Azel menghentikan tangisnya sambil menatapku aneh. Seakan bertanya, "Ibu sehat?" 😁.
Aku tergelak sendiri melihat tatapan matanya. Juga dengan lagu yang baru saja kunyanyikan.
Tapi setidaknya, dia berhenti menangis.
(Posting : fb)
Komentar