Kurang Nendang

Ibuku...

Dikalangan keluarga, orang terdekat, semua mengakui keahlian ibu dalam memasak. Bertahun - tahun kedua tangan beliau yang menyiapkan makanan untuk keluarga.

Juga ketika ada acara - acara keluarga, mengundang tamu ke rumah, maka pantang bagi beliau untuk memesan makanan. 😊. Selama masih bisa dimasak sendiri, maka semua disiapkan dari dapur kita sendiri.

Kadang protes, sih. 'Kok gak pesen ajah. Khan enak tinggal duduk santai. Gak repot'. Tapi beliau selalu punya jawaban jitu. 'Bikin sendiri, lebih mantap rasanya. Lebih puas hasilnya'. 😊.

Ngomong - ngomong soal 'kemantapan rasa', tak banyak yang tahu bahwa ibu sangat mempercayai indra pengecapku. 😉. Hampir semua masakan ibu, terutama yang akan dihidangkan pada tamu atau orang lain, ibu akan memintaku terlebih dahulu untuk mencicipinya.

Dan hampir 90% pendapatku, beliau terima dan setujui. Sisanya yang 10%, beliau ambil dengan terlebih dahulu 'berdiskusi'. Walaupun kemudian keputusan akhir dari diskusi itu aku serahkan kembali pada ibu. Karena aku gak sanggup kalau kemudian di protes sama ibu bila keputusanku yang diambil. Berat. Gak bakalan kuat. 😁.

Dan berikut ini cerita tentang 'mencicipi'...

"Dek, cicipi dulu sayurnya. Kurang apa," ujar ibu ketika aku pulang di sore hari.

Aku pun bergegas ke dapur untuk mencicipi gudeg buatan ibu. Kuambil sedikit. Kurasa - rasa. Kemudian...

"Kurang apa?" Tanya ibu.

"Sudah pas, sih. Tapi, menurut adek, agak kurang nendang dikit," aku mencoba memberikan 'ulasan'.

"Kurang nendang gimana?" Tanya ibu keheranan.

Kontan saja aku tergelak mendengar pertanyaan ibu.

Aku lupa. Dalam kamus tentang rasa milik ibu, adanya kurang asin, kurang manis, kurang pedas dan sejenisnya. Gak ada istilah 'kurang nendang'. 😂

(Posting : fb)

Komentar

Postingan Populer