Es Krim

Paginya basah. Tapi tidak jadi alasan pembenar dong bila Khalisa datang dengan berurai air mata. 😊.

"Aku gak mau sekolah. Aku mau ikut ayah," jerit tangisnya sudah terdengar sejak dari ujung jalan sana.

Sesampai di sekolah, sang ayah langsung menurunkannya dari kendaraan. Tampaknya beliau sedang terburu - buru. Sementara aku menerima Khalisa dengan menghadapkannya ke depan. Agar pukulan dan tendangannya akibat tantrum tidak mengenaiku.

Kemudian kududukkan dia di kursi dengan pesan, "Silakan Khalisa menangis dulu. Bila sudah  selesai menangisnya, nanti kita akan bicara."

Dan aku pun meninggalkan Khalisa yang masih menangis meraung - raung. Sengaja ditinggalkan. Karena berbicara dengan anak yang sedang menangis dan tantrum, sia - sia saja. Tidak akan didengarkan. 😊.

Beberapa saat kemudian, tangisnya sudah mereda. Aku pun menghampiri Khalisa. Memegang kedua tangannya dan mendudukkan dipangkuanku.

"Khalisa ngapain nangis?" Tanyaku santai banget.

"Aku mau es krim," jawabnya masih dengan tetes air mata yang turun satu persatu.

Oalah... itu tho masalahnya. 😀.

"Khalisa lihat? Hujan turun. Pastinya ayah gak belikan es krim. Masak, sih dingin - dingin minum yang dingin. Ntar kedinginan," aku memberi alasan dengan agak berputar - putar. Memberikan kebingungan saja pada anak. 😜.

"Nanti sore aku beli es krim sama ayah," katanya. Berharap.

"Wah, ibu gak tahu, ya Khal. Kita lihat saja nanti," jawabku. Mana beranilah aku berjanji. Bila ternyata nanti sang ayah tidak membelikan es krim, bisa - bisa aku dimintai pertanggungjawaban. 😁.

Khalisa sepertinya dapat memahami apa yang kusampaikan. Karena kemudian dia berkata, "Aku mau main."

"Ok. Silakan. Tapi sebelumnya, peluk ibu dulu dong," ujarku.

Dan kamipun mengakhiri 'obralan penting' kami pagi ini. 😂.

Komentar

Postingan Populer