Empati
Pagi hari..
"Ini punyaku!" Teriak Nathan. Kenceng.
"Bukan! Ini punyaku!" Afif tak kalah kenceng teriaknya.
Mereka tengah memperebutkan sebuah balok panjang warna merah.
"Ini punya Afif. Itu yang punya Nathan," Afif memberikan penjelasan sambil menunjuk balok panjang warna hijau yang terletak di rak mainan sebelah bawah.
Nathan melepas balok ditangannya. Melihat arah yang ditunjuk Afif dan membungkukkan badan untuk mengambil balok itu.
Tiba - tiba..... duk! Kepalanya terantuk rak dan..... whuaaaa... suara tangisnya terdengar.
Melihat Nathan menangis, Khalisa memandanginya seraya bergumam, "Kasihan adikku. Kepalanya sakit."
Ibu guru pun sontak tertawa geli.
Khalisa bisa ajah. Dia terlalu menghayati peran sebagai mbak nya Nathan di sekolah.
.
"Ini punyaku!" Teriak Nathan. Kenceng.
"Bukan! Ini punyaku!" Afif tak kalah kenceng teriaknya.
Mereka tengah memperebutkan sebuah balok panjang warna merah.
"Ini punya Afif. Itu yang punya Nathan," Afif memberikan penjelasan sambil menunjuk balok panjang warna hijau yang terletak di rak mainan sebelah bawah.
Nathan melepas balok ditangannya. Melihat arah yang ditunjuk Afif dan membungkukkan badan untuk mengambil balok itu.
Tiba - tiba..... duk! Kepalanya terantuk rak dan..... whuaaaa... suara tangisnya terdengar.
Melihat Nathan menangis, Khalisa memandanginya seraya bergumam, "Kasihan adikku. Kepalanya sakit."
Ibu guru pun sontak tertawa geli.
Khalisa bisa ajah. Dia terlalu menghayati peran sebagai mbak nya Nathan di sekolah.
(Posting : fb)
Komentar