Panggilan

Satu kali...

"Khenzo tadi diantar siapa?" Tanyaku pada Khenzo di suatu pagi.

"Bapak."

"Bapak? Bukannya Khenzo panggilnya ayah?" Aku keheranan.

"Itu kakung, Bu Yayuk. Khenzo manggilnya bapak. Ngikuti ibunya," begitu ibu guru menjelaskan.

Kok?

Dua kali....

"Tirta nanti djemput siapa?" Suatu sore tanyaku pada Tirta.

"Mbak Linda."

"Mbak sepupu, ya?" Tanyaku. Karena Tirta tidak memiliki saudara kandung.

"Bukan, bu. Itu tantenya. Tapi Tirta manggilnya mbak," kembali ibu guru memberi penjelasan.

Walah...

Aku agak 'pusing' ketika anak - anak memberikan panggilan pada orang - orang terdekatnya. Tak jarang panggilan itu tidak sesuai dengan yang seharusnya. Menurutku. 😊.

Dalam keluarga, aku dibiasakan untuk memanggil sesuai dengan yang seharusnya dipanggil. Misalnya, anak - anaknya pakde / bude di panggil mas / mbak. Dan anak - anaknya om / bulek dipanggil adik.

Tidak perduli berapa pun usianya, ketika seseorang menjadi anak pakde / bude, maka aku harus memanggilnya mbak / mas. Dan bapak sangat peduli pada setiap panggilan ini.

Menurut beliau, dengan memanggil sesuai dengan yang seharusnya, membuat kami tahu bagaimana hubungan keluarga dengan seseorang. Dan itu juga membuat kami paham pada silsilah keluarga. .

Seperti pada photo ini...

Soal usia, pastinya sudah tahu dong siapa yang paling 'senior'. 😉. Tapi tidak berarti aku yang dipanggil 'mbak'. Karena perempuan cantik disebelahku lah yang menyandang panggilan itu. Karena dia adalah putri pakdeku.

Daaan.. karena panggilan yang harus sesuai ini pula, sejak beberapa tahun lalu, aku sudah menjadi 'eyang'. Yangren. Eyang keren... 😂. #maksa

(Posting : fb)

Komentar

Postingan Populer