Layangan
Suatu siang, saat aku melintasi halaman belakang sekolah, untuk pergi ke dapur. Mengambil makan siang anak - anak..
"Apaan ini, bu?" Tanyaku pada salah satu ibu guru yang tengah membantu anak - anak toilet training. Ada benang panjang yang melintang di sepanjang halaman belakang.
"Benang gelasan, deh. Kayaknya ada layang - layang putus," jawab ibu guru.
Dan aku pun mulai menarik benang ini. Ternyata panjang sekali. Berharap ada layangan yang tertinggal diujung sana. Ternyata hanya benangnya saja.
.
Jadi ingat, bertahun lalu saat masih usia SD, ketika musim layangan tiba.
___________________________
Waktu itu, di lapangan belakang rumah, setiap sore selalu ramai. Anak - anak laki - laki bermain layangan saat musim layang - layang tiba.
Mereka menaikkan layang - layang. Sendiri atau bersama teman. Beraneka warna layangan menghiasi langit sore menjelang malam.
Aku menyaksikan keseruan itu dari halaman belakang rumah saja. Karena seingatku, saat itu, teman - teman perempuan tidak ada yang bermain layang - layang.
Hingga...
"Mau dibuatkan layangan?" Bapak memberikan tawaran padaku dan mbak di suatu hari.
Tentu saja kami mau. Pake banget. Plus antusias.
. Bakalan bisa main layang - layang buatan sendiri euy..
Dan mulailah selama beberapa hari, sepulang dari kantor, bapak merangkai bambu - bambu yang akan dibuat layangan. Tak lupa kertas minyak warna - warni.
Bapak membuat layangan yang berbeda dari milik teman - teman laki - laki. Layangannya dibuat lebih besar, dengan ekor yang menjuntai panjang dan bila diterbangkan, akan mengeluarkan bunyi. Layaknya bunyi peluit atau sesuatu yang menyerupai itu. Yang pasti, ada bunyinya!
.
Dan tibalah saat 'penerbangan' layang - layang kami. Ternyata, besar banget. Tangan - tangan kecilku dan mbak cukup kesulitan memegangi layangan saat akan diterbangkan.
Setelah mencoba beberapa kali. Dengan kesulitan yang tidak sedikit, akhirnya layangan ini mengangkasa juga. Dan bunyi seperti yang dijanjikan bapak, dapat kami d engar dengan jelas.
Senang? Tentu saja. Karena akhirnya bisa juga main layangan.
. Walau tidak lama. Karena pada penerbangan pertama ini, layang - layangnya putus! Dan terbang entah kemana.
.
Tapi, kesedihan karena kehilangan layangan, tak dapat menghapus rasa bahagia dan senang karena sudah berhasil menaikkan layangan. Bermain dengan teman lainnya.
.
Terima kasih bapak, untuk satu lagi kenangan masa kecil yang begitu melekat dalam ingatan.
___________________________
Selamat ulang tahun ke 71. Semoga Allah selalu berikan kesehatan, memberi umur panjang, usia yang bermanfaat. Bahagia dan sehat selalu, ya Pak.
.
"Apaan ini, bu?" Tanyaku pada salah satu ibu guru yang tengah membantu anak - anak toilet training. Ada benang panjang yang melintang di sepanjang halaman belakang.
"Benang gelasan, deh. Kayaknya ada layang - layang putus," jawab ibu guru.
Dan aku pun mulai menarik benang ini. Ternyata panjang sekali. Berharap ada layangan yang tertinggal diujung sana. Ternyata hanya benangnya saja.
Jadi ingat, bertahun lalu saat masih usia SD, ketika musim layangan tiba.
___________________________
Waktu itu, di lapangan belakang rumah, setiap sore selalu ramai. Anak - anak laki - laki bermain layangan saat musim layang - layang tiba.
Mereka menaikkan layang - layang. Sendiri atau bersama teman. Beraneka warna layangan menghiasi langit sore menjelang malam.
Aku menyaksikan keseruan itu dari halaman belakang rumah saja. Karena seingatku, saat itu, teman - teman perempuan tidak ada yang bermain layang - layang.
Hingga...
"Mau dibuatkan layangan?" Bapak memberikan tawaran padaku dan mbak di suatu hari.
Tentu saja kami mau. Pake banget. Plus antusias.
Dan mulailah selama beberapa hari, sepulang dari kantor, bapak merangkai bambu - bambu yang akan dibuat layangan. Tak lupa kertas minyak warna - warni.
Bapak membuat layangan yang berbeda dari milik teman - teman laki - laki. Layangannya dibuat lebih besar, dengan ekor yang menjuntai panjang dan bila diterbangkan, akan mengeluarkan bunyi. Layaknya bunyi peluit atau sesuatu yang menyerupai itu. Yang pasti, ada bunyinya!
Dan tibalah saat 'penerbangan' layang - layang kami. Ternyata, besar banget. Tangan - tangan kecilku dan mbak cukup kesulitan memegangi layangan saat akan diterbangkan.
Setelah mencoba beberapa kali. Dengan kesulitan yang tidak sedikit, akhirnya layangan ini mengangkasa juga. Dan bunyi seperti yang dijanjikan bapak, dapat kami d engar dengan jelas.
Senang? Tentu saja. Karena akhirnya bisa juga main layangan.
Tapi, kesedihan karena kehilangan layangan, tak dapat menghapus rasa bahagia dan senang karena sudah berhasil menaikkan layangan. Bermain dengan teman lainnya.
Terima kasih bapak, untuk satu lagi kenangan masa kecil yang begitu melekat dalam ingatan.
___________________________
Selamat ulang tahun ke 71. Semoga Allah selalu berikan kesehatan, memberi umur panjang, usia yang bermanfaat. Bahagia dan sehat selalu, ya Pak.
(Posting : fb)

Komentar