Horor
Karena dianggap 'paling tua', maka setiap kali kunjungan ke rumah
wali murid, aku selalu ditunjuk sebagai 'juru bicara' oleh ibu guru. Tak
jarang, ditengah berbincang, aku kehabisan ide untuk bertanya. Maka
disituasi seperti ini, harus pandai - pandai mencari topik lain, sebelum
kembali lagi ke topik utama.
.
Seperti juga yang terjadi beberapa waktu lalu.
"Disini rumahnya padat, ya Pak," aku mencari topik baru setelah 'mentok' tidak menemukan ide perbincangan.
"Iya, bu," jawab si bapak.
Wali murid yang dikunjungi kali ini, tinggal di sebuah komplek perumahan yang dibangun sejak jaman Belanda. Tak heran bila bangunan rumahnya sudah berumur.
"Kalau tidak pernah kesini, bisa tersesat. Karena jalannya banyak. Bentuk rumahnya juga mirip," aku melanjutkan obrolan.
"Bener, Bu. Dulu pernah ada tukang bakso, muter - muter gak nemu jalan keluar. Soalnya ada yang sengaja muter - muterin gitu," cerita si bapak. "Katanya, sih yang nunggu disini, yang lagi iseng," lanjut beliau.
"Oya?" aku mencium 'aroma' horor pada cerita beliau. Dan penasaran pun muncul. Takut tapi penasaran.
"Iya. Itu disebelah rumah saya, masih ada sumur tua juga," si bapak menambahi cerita. "Biasalah. Kalau bangunan tua, katanya banyak penunggunya," kata beliau seraya tersenyum.
Waduh... Kok mulai 'gak seru', nih. Aku segera mengembalikan topik pembicaraan pada tumbuh kembang putrinya. Gak asyik, khan. Kalau pulang dari sana, trus bawaannya jadi takut.
.
Seperti juga yang terjadi beberapa waktu lalu.
"Disini rumahnya padat, ya Pak," aku mencari topik baru setelah 'mentok' tidak menemukan ide perbincangan.
"Iya, bu," jawab si bapak.
Wali murid yang dikunjungi kali ini, tinggal di sebuah komplek perumahan yang dibangun sejak jaman Belanda. Tak heran bila bangunan rumahnya sudah berumur.
"Kalau tidak pernah kesini, bisa tersesat. Karena jalannya banyak. Bentuk rumahnya juga mirip," aku melanjutkan obrolan.
"Bener, Bu. Dulu pernah ada tukang bakso, muter - muter gak nemu jalan keluar. Soalnya ada yang sengaja muter - muterin gitu," cerita si bapak. "Katanya, sih yang nunggu disini, yang lagi iseng," lanjut beliau.
"Oya?" aku mencium 'aroma' horor pada cerita beliau. Dan penasaran pun muncul. Takut tapi penasaran.
"Iya. Itu disebelah rumah saya, masih ada sumur tua juga," si bapak menambahi cerita. "Biasalah. Kalau bangunan tua, katanya banyak penunggunya," kata beliau seraya tersenyum.
Waduh... Kok mulai 'gak seru', nih. Aku segera mengembalikan topik pembicaraan pada tumbuh kembang putrinya. Gak asyik, khan. Kalau pulang dari sana, trus bawaannya jadi takut.
(Posting : fb)
Komentar