Handuk
Begini 'doktrin' nya....
.
"Auratnya ditutup. Malu kalau dilihat orang lain."
Jadi, di sekolah tuh, anak - anak sudah dikenalkan dengan anggota - anggota tubuhnya. Mana yang boleh terlihat. Mana yang harus ditutup. Mana yang hanya boleh di sentuh oleh orang tua / ibu guru bila di sekolah. Sentuhan seperti apa yang diperbolehkan. Mana yanh tidak boleh disentuh orang lain. Daaann.... masih banyak lagi lainnya.
Salah satu cara untuk membiasakan menutup auratnya adalah saat keluar kamar mandi. Seusai mandi sore. Anak - anak akan berselimutkan handuk. Dan baru boleh dilepas bila akan dipakaikan baju oleh ibu guru. Begitu teorinya.
Dan begini prakteknya.....
Ada yang melepas handuknya. Kemudian digelar di lantai. Laksana sajadah dan duduk diatasnya. 😊.
Ada lagi, yang memakai handuknya di kepala. Dililitkan laksana kerudung. 😁.
Juga ada yang memutar - mutarkannya di atas kepala. Laksana koboi yang memutar - mutar tali laso. 😐.
Tapi...ada lagi yang terbaru... Seperti sore ini...
"Kakak, handuknya dipakai. Malu auratnya terlihat," aku menegur Fino. Handuknya sudah terlempar entah kemana.
Fino tampak tidak menghiraukan. Dia mengambil kembali handuknya dan diputar - putar diatas kepala. Hampir mengenai Raditya yang berada di sampingnya.
Aku segera menahan salah satu ujung handuk. Sementara ujung lainnya masih dipegang Fino. Dan tanpa sadar, terjadi adegan tarik menarik laksana tarik tambang. 😊.
Hingga....
"Yayuk, ini handuk Kakak," Fino mengajukan protes terbuka.
Seraya nyengir kuda, aku melepaskan ujung handuk yang kupegang.
Kakak gitu, sih. Handuknya 'membahayakan' temen sendiri. 😊.
"Auratnya ditutup. Malu kalau dilihat orang lain."
Jadi, di sekolah tuh, anak - anak sudah dikenalkan dengan anggota - anggota tubuhnya. Mana yang boleh terlihat. Mana yang harus ditutup. Mana yang hanya boleh di sentuh oleh orang tua / ibu guru bila di sekolah. Sentuhan seperti apa yang diperbolehkan. Mana yanh tidak boleh disentuh orang lain. Daaann.... masih banyak lagi lainnya.
Salah satu cara untuk membiasakan menutup auratnya adalah saat keluar kamar mandi. Seusai mandi sore. Anak - anak akan berselimutkan handuk. Dan baru boleh dilepas bila akan dipakaikan baju oleh ibu guru. Begitu teorinya.
Dan begini prakteknya.....
Ada yang melepas handuknya. Kemudian digelar di lantai. Laksana sajadah dan duduk diatasnya. 😊.
Ada lagi, yang memakai handuknya di kepala. Dililitkan laksana kerudung. 😁.
Juga ada yang memutar - mutarkannya di atas kepala. Laksana koboi yang memutar - mutar tali laso. 😐.
Tapi...ada lagi yang terbaru... Seperti sore ini...
"Kakak, handuknya dipakai. Malu auratnya terlihat," aku menegur Fino. Handuknya sudah terlempar entah kemana.
Fino tampak tidak menghiraukan. Dia mengambil kembali handuknya dan diputar - putar diatas kepala. Hampir mengenai Raditya yang berada di sampingnya.
Aku segera menahan salah satu ujung handuk. Sementara ujung lainnya masih dipegang Fino. Dan tanpa sadar, terjadi adegan tarik menarik laksana tarik tambang. 😊.
Hingga....
"Yayuk, ini handuk Kakak," Fino mengajukan protes terbuka.
Seraya nyengir kuda, aku melepaskan ujung handuk yang kupegang.
Kakak gitu, sih. Handuknya 'membahayakan' temen sendiri. 😊.
(Posting : fb)
Komentar