Infus
Jadi begini...
Setiap pagi, ketika akan mengambil snack anak - anak di warung dekat sekolah, aku selalu mengajak satu atau dua orang anak.
Setiap kali pula, ketika akan menyebrang jalan kecil di depan sekolah, aku selalu berkata, "Kita lihat dulu, ya. Kiri. Kanan. Pastikan tidak ada kendaraan. Agar kita tidak ketabrak."
Dan inilah cerita hari ini...
Aku mengajak Khalisa dan Tirta untuk mengambil snack pagi ini. Tepatnya, mereka berdua mengajukan diri untuk ikut denganku.
Seperti biasa, aku mengulangi lagi kata - kata yang selalu kuucapkan.
Khalisa pun menyambung perkataanku...
"Kalau ketabrak, sakit ya, Bu Yayuk?"
"Pastinya. Sakit banget."
"Nanti bisa di infus, ya?"
Infus? Hhmmm .... Khalisa punya kosa kata baru, nih..
"Infus tuh apaan, Khal?" Aku bertanya. Penasaran dengan jawaban yang akan diberikannya.
"Itu lho, Bu. Kepalanya di usap - usap," jawab Khalisa begitu yakin.
Aku tidak melanjutkan lagi pertanyaan. Karena sibuk mengira - ira apa yang dimaksud dengan jawaban Khalisa.
.
Setiap pagi, ketika akan mengambil snack anak - anak di warung dekat sekolah, aku selalu mengajak satu atau dua orang anak.
Setiap kali pula, ketika akan menyebrang jalan kecil di depan sekolah, aku selalu berkata, "Kita lihat dulu, ya. Kiri. Kanan. Pastikan tidak ada kendaraan. Agar kita tidak ketabrak."
Dan inilah cerita hari ini...
Aku mengajak Khalisa dan Tirta untuk mengambil snack pagi ini. Tepatnya, mereka berdua mengajukan diri untuk ikut denganku.
Seperti biasa, aku mengulangi lagi kata - kata yang selalu kuucapkan.
Khalisa pun menyambung perkataanku...
"Kalau ketabrak, sakit ya, Bu Yayuk?"
"Pastinya. Sakit banget."
"Nanti bisa di infus, ya?"
Infus? Hhmmm .... Khalisa punya kosa kata baru, nih..
"Infus tuh apaan, Khal?" Aku bertanya. Penasaran dengan jawaban yang akan diberikannya.
"Itu lho, Bu. Kepalanya di usap - usap," jawab Khalisa begitu yakin.
Aku tidak melanjutkan lagi pertanyaan. Karena sibuk mengira - ira apa yang dimaksud dengan jawaban Khalisa.
(Posting : fb)
Komentar