Selalu Salah

Maafkan bila ini akan jadi tulisan panjang... ☺

Beberapa waktu lalu, datanglah seorang bapak bersama putranya ke sekolah. Bermaksud untuk memasukkan sang anak ke sekolah. Laki - laki kecil yang berusia 3 tahunan ini tampak asyik memainkan balok warna. Sementara sang ayah menemuiku.

Sebagaimana layaknya ketika menerima calon wali murid, maka aku pun mengadakan wawancara singkat. Pada sang ayah, aku bertanya banyak hal tentang sang anak. Kebiasaan yang dimiliki. Kemampuan belajar yang sudah dikuasai. Cara sosialisasinya dengan orang baru. Dan beberapa hal lainnya.

Mengapa ini kutanyakan? Karena akan sangat bermanfaat bila nanti si anak melewati masa adaptasi.
Ibu guru setidaknya sudah memiliki gambaran harus bagaimana mendampingi sang anak di masa awalnya bergabung di sekolah.

Penjelasan yang kuterima dari sang ayah sangat panjang....

Si anak mengalami speech delay. Keras kepala. Tidak mau mendengarkan orang lain. Semaunya sendiri. Bila kehendaknya tidak dituruti, si anak akan mengamuk. Tantrum. Sulit dikendalikan. Bla.. bla... bla..

Intinya, sepanjang penjelasan menunjukkan bila sang anak 'sangat luar biasa'.

Seiring waktu berlalu, maka mulailah sang anak bergabung di sekolah

Hari demi hari terlewati, ibu guru tidak mendapati apa yang digambarkan sang ayah.

Si anak mampu mengikuti aturan yang ada, meskipun dia anak baru. Juga bisa mengungkapkan apa yang dimaui, walau kata yang diucapkan belum jelas.

Si anak juga bisa mengikuti perintah yang diberikan. Bersosialisasi dengan pendampingan ibu guru. Mampu mengungkapkan keinginannya.

Dan intinya, dia termasuk anak yang 'biasa'. Sama seperti anak lainnya. Tak terlihat 'keluarbiasaanya'. Seperti yang digambarkan sang ayah.

Ibu guru justru mendapati hal yang tidak biasa pada sang ayah.

Ketika si anak mencoba menjawab pertanyaan ibu guru, sang ayah sudah 'membantu'nya terlebih dahulu untuk menjawab.

Ketika sang anak salah memasukkan tangan ke bajunya, sang ayah buru - buru turun tangan. Membantu.

Ketika sang anak tengah makan dan bajunya terkena makanan, sang ayah segera mengingatkan agar bajunya tidak kotor.

Saatnya bermain, sang ayah mengintervensi anak untuk membuat atau tidak membuat sesuatu.

Dan masih banyak lagi 'keajaiban' yang ditunjukkan sang ayah.

Ibu guru setidaknya jadi tahu mengapa selama ini sang anak seperti yang digambarkan sang ayah.

Bagaimana sang anak berani melakukan sesuatu bila setiap hal yang dilakukannya sudah dinilai 'tidak sempurna' dan 'salah'.

Bagaimana sang anak mampu berbicara, bila setiap kali akan mengeluarkan kata - kata, sang ayah sudah tak sabar menunggu untaian kata yang keluar dari mulut mungilnya.

Bagaimana tidak mengamuk bila sang anak saat melakukan sesuatu tiba - tiba dihentikan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.

Daaan... masih banyak lagi lainnya.

Dengan sangat menyesal, ibu guru menyimpulkan. Bahwa yang seharusnya sekolah PAUD adalah sang ayah. Bukan anaknya. 😩.

(Posting : fb)


Komentar

Postingan Populer