Bisa Sendiri
Ketika anak - anak sudah mulai selesai dengan kegiatan menggambarnya.
Dan ketika ibu guru berkata, "Anak - anak, yang sudah selesai, bantu ibu
mengembalikan kotak crayon, ya. Susun kembali di laci."
Maka, satu persatu anak - anak mengembalikan dan menyusun kotak crayonnya di laci lemari. Hingga kemudian terdengar...
"Itu crayonku," sebuah suara yang hampir menyerupai tangisan. Suara Naufal.
"Ada apa?" Aku bertanya seraya menyiapkan piring - piring untuk makan siang.
"Crayonku diambil Oliv," lapor Naufal.
"Aku mau bantuin balikin ke laci," jawab Oliv cepat.
Anak yang baik. Di sekolah, anak - anak memang diajarkan untuk saling membantu. 😊.
"Terima kasih Oliv mau membantu. Tapi Naufalnya pengen balikin sendiri crayonnya. Jadi biarkan, ya Liv," aku memberi penjelasan pada Oivia.
Selesaikah? Ternyata tidak!!.. 😁.
Beberapa menit berselang..
"Bu Yayuk, Naufal gak mau dibantu," kali ini Dzikra yang mengadu.
Aku menghampiri Dzikra. Menggenggam kedua tangan kecil itu. Menatap dalam ke dua belah bola matanya dan berkata dengan intonasi jelas di setiap katanya,
"Dzikra, Naufal bukan tidak mau dibantu. Tapi dia merasa tidak butuh bantuan. Karena Naufal bisa sendiri mengembalikan crayonnya."
Dzikra balik menatapku dan mengangguk. Aku gak yakin dia paham. (Maafkan Ibu atas pilihan kata yang agak ribet, ya Nak. 😉).
Maka, satu persatu anak - anak mengembalikan dan menyusun kotak crayonnya di laci lemari. Hingga kemudian terdengar...
"Itu crayonku," sebuah suara yang hampir menyerupai tangisan. Suara Naufal.
"Ada apa?" Aku bertanya seraya menyiapkan piring - piring untuk makan siang.
"Crayonku diambil Oliv," lapor Naufal.
"Aku mau bantuin balikin ke laci," jawab Oliv cepat.
Anak yang baik. Di sekolah, anak - anak memang diajarkan untuk saling membantu. 😊.
"Terima kasih Oliv mau membantu. Tapi Naufalnya pengen balikin sendiri crayonnya. Jadi biarkan, ya Liv," aku memberi penjelasan pada Oivia.
Selesaikah? Ternyata tidak!!.. 😁.
Beberapa menit berselang..
"Bu Yayuk, Naufal gak mau dibantu," kali ini Dzikra yang mengadu.
Aku menghampiri Dzikra. Menggenggam kedua tangan kecil itu. Menatap dalam ke dua belah bola matanya dan berkata dengan intonasi jelas di setiap katanya,
"Dzikra, Naufal bukan tidak mau dibantu. Tapi dia merasa tidak butuh bantuan. Karena Naufal bisa sendiri mengembalikan crayonnya."
Dzikra balik menatapku dan mengangguk. Aku gak yakin dia paham. (Maafkan Ibu atas pilihan kata yang agak ribet, ya Nak. 😉).
Sementara ibu guru yang lain tertawa geli melihat caraku memberi penjelasan pada Dzikra. 😜.
(Posting : fb)
Komentar