Topeng
Aku bersyukur 'dikaruniai' urat malu yang sudah putus dihadapan anak - anak. 😊. Sehingga saat bermain dengan mereka, aku bisa lepas bebas. Gak lagi mikir, ini malu - maluin, gak ya...
Kemarin, topeng milik Tirta tertinggal di sekolah. Katanya, sih topeng transformer. Aku gak begitu tahu. Yang aku tahu kemudian, topeng ini tergeletak begitu saja di sekolah. Sepertinya sang pemilik sudah tidak tertarik dengan topeng plastik ini.
Maka, disiang hari kemarin, sehabis jalan - jalan aku terpikir untuk mengajak anak - anak bermain dengan topeng ini.
Kukenakan topeng, yang ternyata bikin berkeringat, dan mulailah berperan sebagai ' penguasa dunia anak - anak'.
Saat melihatku pertama kali dengan topeng, anak - anak langsung berlarian ke sana - ke mari. Mereka seperti sudah tahu harus bagaimana. Tanpa harus diatur oleh sebuah skenario.
Mereka berlari menghindari agar jangan sampai tertangkap olehku. Karena aku bisa menyihir jadi batu. Juga jadi pesawat terbang. Tak ketinggalan kupu - kupu, bunga dan masih banyak lagi.
Yang paling menyenangkan dari permainan ini, kami bisa bermain sambil belajar.
Abaikan kepala yang terasa agak pusing selama memakai topeng. Maklumlah. Itu topeng dengan ukuran kepala Tirta. Walau memakai karet, tetap saja dikepalaku terasa sempit. 😜.
Abaikan juga rasa panas dan berkeringat karena topeng ini benar - benar 'tidak bersahabat'. Tidak ada lubang udara di sekitar kening. Bikin keringat mengucur di dahi.
Karena melihat anak - anak tertawa dan bergembira, itu sudah cukup menghapus kepala pusing dan keringat yang mengucur deras.
(Posting : fb)

Komentar