Saudara
Awalnya,
hanya aku dan mbak. Saat kami SMP, hadirlah si adek besar. Dan kami pun
tumbuh dan dibesarkan oleh bapak ibu sebagai saudara sebagaimana
layaknya.
Karena bersaudara, maka kami sering bertengkar. Kami biasa 'meributkan hal kecil dan membicarakan dengan serius masalah besar'. 😀.
Saat bertengkar, kami bisa menjadi lawan sekaligus teman di saat bersamaan.
Maksudnya?
Ketika aku dan adek besar meributkan sesuatu, mbak akan
datang untuk nimbrung di keributan kami. Bila kami tidak suka, maka aku
dan adek besar akan menjadi teman untuk melawan mbak. Atau dalam kondisi
yang berbeda, bisa saja aku yang menjadi musuh bersama mbak dan si adek
besar. Intinya, gak jelas mana kawan mana lawan. 😜.
Dari pertengkaran itu, kami belajar untuk mengerti satu sama lain. Tahu apa yang disuka dan tidak disuka oleh masing - masing. Dan percayalah pertengkaran itu adalah cara kami menunjukkan rasa sayang dan peduli pada yang lain.

Seringnya kami bertengkar, membuat protes keponakanku.
"Ibu, bulek dan om saja sering ribut. Kok mbak sama adek gak boleh ribut," begitulah kira - kira protes mereka.
Dan dengan santai aku menjawab, "Ibu, Bulek dan Om bertengkarnya sering. Tapi gak mutu. Tapi kalian, bertengkarnya jarang. Tapi mutu banget alias akurnya lama."
Dan kami pun tertawa bersama mendengar penjelasanku yang gak mutu banget.
Kadang, yang gak mutu itu yang ngangeni saat kami terpisah jauh. 😍.
(Posting : fb)
Komentar