Bungsu
Selain photo keluarga besar, saat sesi photo bersama, masing - masing putra - putri mbah juga berphoto bersama keluarga. Jadi ada 14 keluarga yang photo secara bergantian. Dimulai dari anak pertama hingga urutan terakhir alias bungsu. Selalu begitu disetiap acara kumpul keluarga.
Karena ada 14 keluarga, pastinya proses pengambilan gambar membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Memastikan semua anggota keluarga lengkap terlebih dahulu sebelum pengambilan gambar. Menyusun formasi agar tampilan dikamera menjadi lebih baik.
Karena ibu adalah anak kedua, maka disetiap sesi photo, kami selalu ada dibagian awal. Dimana masih banyak yang menyaksikan lantaran menunggu giliran berikutnya. Tak sedikit pula yang memberikan arahan gaya.
Semakin besar urutan, maka akan semakin sedikit pula yang berada dilokasi acara karena masing - masing sudah bersiap untuk melanjutkan acara berikutnya. Jadi tak heran ketika sampai pada anak bungsu, suasananya lebih sepi.
Dan ini ceritanya...
"Belum kebagian giliran, ya bul?" Tanyaku iseng pada bulek bungsuku. Saat itu, sesi photo baru sampai pada Om ku. Nomer 10.
"Belum. Kita sudah biasa jadi yang terakhir," sahut bulekku sambil tertawa.
"Sudah sepi juga, nih," sambung omku, suami bulek. "Sudah gak ada suporter," tambahnya seraya bergurau.
Mendengar gurauannya, aku pun meminta pada salah satu sepupu untuk memanggil kembali saudara yang lain.
Maka, beramai - ramailah kami kembali ke tengah lapangan untuk menyemangati keluarga bulek bungsuku yang tengah diambil gambarnya.
Lalu tercetuslah sebuah ide.Untuk pengambilan gambar di tahun 2030 nanti, dimulainya dari nomer 14. Alamat keluargaku kebagian di bagian akhir. 😂.
Komentar