Drama

Aku sengaja menyiapkan APE alias Alat Permainan Edukatif dirumah. Bila ada tamu yang berkunjung dan membawa anak kecil, mainan ini dapat membantu si anak asyik bermain. Sementara ortunya bisa santai ngobrol sana sini.

Mainan ini juga biasa dimainkan oleh Zee. Seperti siang ini. Dia bermain roncean balok. Merangkai satu persatu hingga panjang. Kemudian diayun dan diputar - putar diatas kepalanya. 

Tentu saja ini berbahaya. Karena bila pegangannya terlepas, roncean balok ini bisa mengenai kepalanya atau terlempar mengenai kaca diruang tengah.

"Zee, kalau roncean nya mau dimainkan, ditarik saja. Seperti menarik kereta - keretaan," saranku seraya memberikan contoh dengan memegang roncean yang tadi dibuatnya.

Tapi apa yang terjadi?

Dia menangis sekencang - kencangnya. Dengan menggunakan 'tenaga dalam', hingga aku yakin pasti terdengar tetangga. 🤭.

"Tiya ambil mainan Zeezee," protesnya disela tangisan yang terdengar dalam pelukan sang Ama.

Waduh.... Salah paham, nih... Dan harus diluruskan agar Tiya tidak menjadi tersangka. 😁.

"Zee, dengarkan Tiya," aku memulai penjelasan. " Roncean ini, kalau Zee putar - putar diatas kepala, itu ba - ha - ya," aku memberi penekanan pada kata bahaya. "Biar aman, Zee tarik seperti ini saja. Seperti kereta," ujarku seraya memberikan contoh lagi.

"O.. gitu," jawab Zee dengan ringan nya. Meniadakan sisa tangisan yang tadi terdengar begitu keras. 

Ah, tampaknya gadis kecil ini sudah mulai pandai mendramatisir suatu kejadian. 😂.

Komentar

Postingan Populer