Sujud
Doa... Patuh... Harapan..
Saat mbah Kakung Putri masih ada, maka moment kumpul bersama kami adalah saat lebaran Idul Fitri. Walau kadang tak lengkap, tapi karena mbah memiliki 14 anak beserta menantu dan cucu, jadi tetap saja terasa ramai.
Karena kumpul keluarga, maka rumah mbah yang besar masih tetap saja terasa sempit. Tentu saja kamar yang ada tidak bisa menampung semua anggota keluarga. Maka yang terjadi adalah kamar hanya sekedar tempat untuk meletakkan tas dan koper. Sedangkan tidur, beristirahat dapat dilakukan dimana saja.
Diruang tamu yang kursinya sudah disingkirkan dan dialasi tikar, menjadi salah satu tempat yang diperebutkan. Atau diruang keluarga sembari menyaksikan televisi mungil yang diletakkan ditengah ruang. Bisa juga di halaman tengah yang juga berfungsi sebagai tempat menjemur padi.
Yups! Halaman tengah rumah mbah berupa lahan yang disemen halus. Yang saat panen tiba, berfungsi untuk menjemur padi. Ketika kami berkumpul, lahan ini digelari tikar dan kami sering berbaring sembari menatap langit dan bintang dimalam hari.
Ditempat ini juga, kami biasa sholat berjamah saat Subuh, Maghrib dan Isya. Seusai sholat, kadang ada perbincangan ringan diantara anak - anak mbah. Sementara kami, para cucu, tak jarang tertidur lagi dipangkuan orang tua masing - masing.
Ketika matahari mulai sedikit menampakkan cahayanya, sarapan didapur sudah mulai bisa dinikmati. Beratapkan langit pagi hari , disertai hembusan angin dingin, secangkir kopi atau teh beserta pisang goreng, menjadi nikmat untuk disantap bersama kerabat.
Sebuah cerita dan kisah masa lalu yang tak mungkin dapat diulang. Namun kami bisa terus menciptakan suasana kebersamaan. Berkumpul dan bercengkrama. Bernostalgia.
Seraya terus melangitkan doa dan pinta. Semoga Allah terus menjaga kami untuk dapat terus bersilaturahmi. Menjaga amanah mbah Kakung Putri. Inshaa Allah.
Posting : fb

Komentar