Rayu

Walau menjadi kesayangan seluruh penghuni rumah, kami berusaha untuk tidak memanjakan Zee. Dia tetap dikenai teguran bila ada sesuatu yang tidak seharusnya.


Seperti ini...


Disuatu makan malam bersama, Zee tengah asyik menikmati makanan kesukaannya. Tempe goreng. Namun diakhir makannya, tempe yang dipotong kecil - kecil ini dibuang satu persatu ke lantai. Sepertinya dia sudah kenyang.


Aku pun mengingatkannya bahwa makanan untuk dimakan, bukan dibuang. Juga menambahkan, bila dia sudah kenyang, makanannya diletakkan saja dipiring. Namun peringatan ini diabaikan dan Zee kembali mengulangi.


"Zee, Tiya marah, ya. Makanannya tidak dibuang - buang," aku berkata pada Zee dengan raut muka datar disertai pandangan lurus, tepat dimatanya.


Zee sudah mengenal ekspresi marahku. Dia menunduk seraya melirikkan matanya. Lalu diiringi sebuah senyum tipis. Aku menahan diri untuk tidak tertawa melihat wajah lucunya. Tetap memasang raut muka yang datar.


Menyadari usahanya gagal, Zee mencoba cara lain. Dia berceloteh ini itu dengan kemampuan berbicaranya yang mulai terasah dengan baik. Tapi aku tak bergeming.


"Tiya masih marah, ya," ujarku menjawab celotehannya. Sambil tetap menahankan tawa.


Dan Zee tidak berputus asa. Jurus pamungkasnya dikeluarkan...


"Tiya," panggilnya dengan nada rendah merayu disertai dengan senyum manis dan mata mengerling.


Kali ini, pertahananku runtuh. Tawa pun meledak. Zee selalu berhasil menggagalkan kemarahan Tiya. 😁.


Tetap jadi anak baik, Zee.... sehat - sehat, ya..


Posting  : fb

Komentar

Postingan Populer