Cium Tangan
Ada kebiasaan yang dimiliki Zee saat bapak alias Uyut Akung akan pergi ke masjid. Yaitu cium tangan.
Ketika
melihat Uyut Akung keluar kamar dengan menggunakan sarung atau memakai
baju koko, Zee sudah tahu. Uyut Akung pasti akan pergi ke masjid.
Dia akan langsung datang menghampiri. Mencium tangan dengan sangat 'khusyuk'. Lantaran lama dan dicium berkali - kali.
Dan ini ceritanya...
"Zee, Uyut mau ke masjid. Sini cium tangan dulu," panggil bapak pada Zee yang tengah kupangku.
Dia baru saja bangun tidur di sore itu. Masih lemes. Sepertinya nyawanya belum seutuhnya bersatu dengan raga.
Zee tidak merespon panggilan bapak. Dia tetap berada dalam pangkuanku sambil merengek pelan.
"Mau salim gak sama Uyut Akung?" Tanyaku. Zee masih tak melepaskan pelukan dipangkuanku.
"Gak salim, Yut. Zee nya masih ngantuk," ujarku pada bapak.
Maka bapak pun berangkat ke masjid. Tapi kemudian, Zee menangis. Mengulurkan tangan seperti saat dia biasa salim pada bapak.
"Uyut Akung sudah berangkat ke masjid. Nanti saja kalau pulang, Zee salim ya," aku menyarankan.
Tapi dia tetap menangis.
"Ya sudah. Salim Uyut Titi ajah," ibu berkata seraya mengulurkan tangan beliau.
Zee pun menerima uluran tangan itu dan menciumnya. Tangisnya pun berakhir.
Zee ada - ada ajah...
.
.
Komentar