Mie Goreng

Zee...
begitu kami biasa memanggilnya. Sejak 15 bulan lalu, dia menjadi pusat
segala perhatian penghuni rumah. Tingkah polahnya menjadi perbincangan
yang tak habis dikupas tuntas. Cerianya menjadi warna bahagia setiap
hari. Sakitnya menjadi kesedihan yang turut dirasakan.
Sebagai penghuni termuda, setiap hari Zee berinteraksi dengan orang - orang dewasa disekitarnya. Mulai kedua orang tuanya (keponakan cantik yang sulung dan suaminya), eyangnya (mbak yang disapanya 'Neti' dan aku yang dipanggil 'Tiya'). Juga bapak ibu yang mendapat panggilan baru 'uyut akung' dan 'uyut titi' serta tantenya yang minta dikenalkan dengan sapaan 'kakak'.
.
Tak aneh bila kemudian kami 'menduga', kelak Zee akan lebih 'dewasa' dibanding temannya yang lain. Karena sejak bayi, berkumpulnya dengan orang - orang tua. Dia melihat dan mencontoh kebiasaan yang terpampang didepan matanya setiap hari. Salah satunya soal makanan.
Sejak usianya menginjak 1 tahun, Zee tidak mau lagi makanan yang dikhususkan untuknya. Dia menginginkan makanan yang sama dengan penghuni rumah lainnya. Maka menjadi hal yang biasa ketika Zee makan sayur lodeh, sayur kangkung, tempe dan tahu goreng. Menjadi menyenangkan karena tak perlu lagi repot menyiapkan menu khusus untuknya.
Dan inilah cerita pertama yang kutulis tentang Zee....
"Kemarin Zee gak makan nasi, ya?" Tanya ibu saat kami tengah memasak didapur pagi ini.
"Gak," jawabku. "Kemarin karbohidratnya didapat dari mie goreng. Dia suka banget," lanjutku
"Ibu sengaja masak mie nya dengan dikasih sedikit garam dan merica," jelas ibu. "Biar Zee bisa ikutan makan."
Aha.. terjawab sudah keherananku kemarin. Saat menemani Zee makan siang, aku merasa mie goreng buatan ibu kali ini rasanya aneh. Sebagai 'chef terbaik', masakan ibu tidak pernah gagal dalam soal rasa. Tapi kemarin, aku mengalami 'kesulitan' dalam menemukan rasa mie goreng. Lantaran hambar dan tak ada rasa pedas merica.
Akhirnya, harus diakui, sebagai pemegang kasta tertinggi di rumah ini, Zee adalah pemenangnya. Bahkan ibu sebagai chef, 'rela' menurunkan standar rasa masakan, demi sang buyut bisa ikut merasakan masakan beliau. Dan ini pasti akan sering terjadi.
.
Sebagai penghuni termuda, setiap hari Zee berinteraksi dengan orang - orang dewasa disekitarnya. Mulai kedua orang tuanya (keponakan cantik yang sulung dan suaminya), eyangnya (mbak yang disapanya 'Neti' dan aku yang dipanggil 'Tiya'). Juga bapak ibu yang mendapat panggilan baru 'uyut akung' dan 'uyut titi' serta tantenya yang minta dikenalkan dengan sapaan 'kakak'.
Tak aneh bila kemudian kami 'menduga', kelak Zee akan lebih 'dewasa' dibanding temannya yang lain. Karena sejak bayi, berkumpulnya dengan orang - orang tua. Dia melihat dan mencontoh kebiasaan yang terpampang didepan matanya setiap hari. Salah satunya soal makanan.
Sejak usianya menginjak 1 tahun, Zee tidak mau lagi makanan yang dikhususkan untuknya. Dia menginginkan makanan yang sama dengan penghuni rumah lainnya. Maka menjadi hal yang biasa ketika Zee makan sayur lodeh, sayur kangkung, tempe dan tahu goreng. Menjadi menyenangkan karena tak perlu lagi repot menyiapkan menu khusus untuknya.
Dan inilah cerita pertama yang kutulis tentang Zee....
"Kemarin Zee gak makan nasi, ya?" Tanya ibu saat kami tengah memasak didapur pagi ini.
"Gak," jawabku. "Kemarin karbohidratnya didapat dari mie goreng. Dia suka banget," lanjutku
"Ibu sengaja masak mie nya dengan dikasih sedikit garam dan merica," jelas ibu. "Biar Zee bisa ikutan makan."
Aha.. terjawab sudah keherananku kemarin. Saat menemani Zee makan siang, aku merasa mie goreng buatan ibu kali ini rasanya aneh. Sebagai 'chef terbaik', masakan ibu tidak pernah gagal dalam soal rasa. Tapi kemarin, aku mengalami 'kesulitan' dalam menemukan rasa mie goreng. Lantaran hambar dan tak ada rasa pedas merica.
Akhirnya, harus diakui, sebagai pemegang kasta tertinggi di rumah ini, Zee adalah pemenangnya. Bahkan ibu sebagai chef, 'rela' menurunkan standar rasa masakan, demi sang buyut bisa ikut merasakan masakan beliau. Dan ini pasti akan sering terjadi.
Post : Ig
Komentar