Bawang Merah

Musim penghujan telah datang. Hujan datang tak menentukan waktu. Kapan saja bisa turun tanpa memberitahu. Pagi - sore. Siang - malam. Tak jarang matahari menyembunyikan sinarnya dibalik awan mendung yang menggantung seharian. Dan hawa dingin pun lebih sering terasa.
 
Dan inilah yang terjadi....
 
Seusai bangun tidur di siang kemarin, Zee tak berhenti menangis. Selalu saja ada yang salah. Sehingga tangisnya sambung menyambung.
 
Dipangku salah, digendong meronta - ronta. Dibiarkan duduk sendiri, tangisnya semakin menjadi. Diberi minum tidak berkenan. Apalagi disuapi makanan. Ditolak mentah - mentah.
 
Bingung? Pastinya. Dan mencoba mencari tahu dengan menelusuri satu persatu tubuhnya.
Tak ada gigitan serangga. Baju yang dikenakan juga nyaman. Popoknya bersih. Tapi perutnya berbunyi yang tak biasa saat ditepuk - tepuk. Seperti kembung. 
 
"Perut Zee sakit?" Tanyaku.
Zee tidak menjawab. Tapi malah menepuk - nepuk perutnya, menirukan apa yang tadi aku lakukan. Kemudian dia tertawa. Lha? Kok malah aneh. 😁.
 
"Perutnya berasa gak enak gitu, ya?" Aku seolah berkata sendiri. Sebenarnya tadi aku sudah mengolesi perut Zee dengan minyak, untuk menghangatkan. Tapi sepertinya tidak berpengaruh.
 
"Diolesi bawang ajah," ujar ibu sambil beranjak ke dapur.

 No photo description available.

Spontan aku tertawa geli. Bakalan ada aroma bawang merah, nih. 
 
Jadi... bawang merah yang diparut dan diberi sedikit minyak adalah ramuan tradisional yang dipakai turun temurun di keluarga ini. Dioleskan pada seluruh tubuh bayi ketika tidak enak badan. Karena bawang merah memberikan efek hangat ke tubuh.
 
Alhasil seharian kemarin, Zee benar - benar menjadi anak bawang, yang beraroma khas. 🤣.
Dan alhamdulillah, saat terbangun dipagi ini, dia sudah kembali ceria.
 
Sehat terus Zeezee....
 
Posting : Ig

Komentar

Postingan Populer