Cerita Bersama Covid (Bagian Terakhir)

 Diberi kesempatan oleh Allah untuk menjadi 'perawat' bagi 4 anggota keluarga yang positif covid dan menjaga bapak ibu yang memiliki riwayat penyakit bawaan, menjadikan aku harus kuat. Lahir dan bathin. Mengabaikan perasaan 'melow' lantaran tak pernah tahu bagaimana akhir dari covid ini nantinya. 

Untuk menguatkan hati dan 'menyehatkan' pikiran, aku memilih untuk tidak membaca segala macam postingan yang ada di WAG, berita - berita yang berseliweran dan juga menyaksikan laporan - laporan langsung tentang data - data covid di media. Aku memilih untuk menanamkan pikiran positif bahwa 'badai' ini akan segera berlalu. Dan kami akan dapat melewatinya dengan selamat.

Sesekali, kami bertiga - aku, mbak dan adek besar - ngobrol lewat panggilan video. Adek besar nun jauh disana. Sementara aku dan mbak berada dirumah, namun kamar yang berbeda. Saling menguatkan satu sama lain. Bercerita hal - hal ringan hingga bertanya kabar. Saling mendoakan. Kami menjaga perbincangan dari bapak ibu. Agar keduanya tidak khawatir atas apa yang tengah terjadi. Berusaha semaksimal mungkin untuk menampilkan wajah baik - baik saja.

Namun begitu, perasaan seorang ibu, pastinya tetap memiliki rasa khawatir. Satu kali saat adek besar usai melakukan panggilan video, ibu dengan mata berkaca - kaca berkata padaku' "Ibu kepikiran Anang. Sendirian disana. Kalau sakit gimana?" Ibu mengatakan hal ini seusai melihat adek besar batuk - batuk saat melakukan panggilan video. Aku dan ibu biasa menyapa adek besar dengan panggilan 'Anang'. Yang berarti anak lanang.

Aku langsung menyela agar beliau tidak semakin larut dalam sedih, "Inshaa Allah Anang baik - baik saja, Bu. Dia khan paling cerewet kalau soal menjaga kesehatan. Jadi pasti dia akan sangat menjaga kesehatannya."

Tiga pekan menjalani hari - hari yang laksana naik roller coaster, membuat aku menyadari betapa pentingnya untuk memiliki orang - orang yang akan menguatkan disaat lemah dan 'terjatuh'. Karena situasi yang tak menentu, tak jarang membuat perasaan menjadi naik turun. Kadang sedih tiba - tiba datang. Atau ketakutan yang menyerang. Pastinya semua kegelisahan ini dikembalikan lagi pada Allah. Namun aku merasa bahwa dukungan dari oraang - orang disekeliling, akan sangat meringankan segala beban perasaan. Dan aku bersyukur, untuk itu semua, aku memiliki 'support system' yang begitu luar biasa. 

Dua orang bulek, adek ibu yang memang kukabari tentang kondisi keluarga, hampir setiap hari berkabar. Tak selalu menanyakan kesehatan. Tapi juga mengajak 'bercanda' melalui pesan WA. Menghibur dengan cara yang mereka bisa.

Tak jarang ketika berada di titik terendah, ketika lelah dan kekhawatiran begitu mendominasi, aku akan  mengirimkan pesan WA pada keduanya. Isinya singkat saja. 'Semangati aku dong'. Dan mereka akan segera memberikan pesan - pesan yang akan kembali menguatkan.

Selain itu ada juga beberapa sahabat keluarga. Yang mengetahui kabar tentang isoman yang tengah kami jalani. Bertanya kabar. Memberi semangat. Menguatkan. Menghibur dan meyakinkan bahwa semua akan berakhir dengan baik.

Tak selalu memberi semangat dan kata - kata penguat, kadang mereka hanya sekedar mendengarkan saja apa yang menjadi kegelisahanku. Membaca setiap curahan hati hingga aku lega.

Ketika akhirnya 3 pekan isolasi ini usai, aku mengambil pelajaran penting yang luar biasa. Jangan pernah berhenti untuk berpikir positif dan berprasangka baik pada Allah. Semaksimal mungkin berusaha, mengupayakan kesehatan. Setelahnya serahkan pada Allah. Dia lebih tahu yang terbaik untuk hambaNya. 

Memiliki orang - orang baik yang dapat menjadi 'support system' yang akan menyemangati setiap saat adalah hal penting lainnya. Karena saat berada dalam kegelisahan, ketakutan dan kekhawatiran yang begitu besar, support system inilah yang akan menenangkan dan membuat aku dapat kembali berpikir jernih.

Muara dari semuanya adalah keyakinan bahwa Allah tak akan membebankan sesuatu diluar batas kemampuan hambaNya. Dia sudah siapkan jalan keluar dari setiap permasalahan. Dia juga yang akan memudahkan dari setiap kesusahan. Jadi.... kembalikan semua pada Allah. Tak putus melangitkan do'a. Melantunkan permohonan. Meminta diberikan yang terbaik menurutNya. Allah, Allah lagi dan lagi - lagi Allah. Tak putus. Tak henti.

Posting : Bl

Komentar

Postingan Populer