Cerita Bersama Covid (Bagian ketiga)

 

Menjalani isoman dengan empat orang yang dinyatakan positif covid, mengubah banyak hal dirumah. Yang langsung terasa adalah suasana sepi. Karena hanya aku, ibu dan bapak yang bebas berada disekitar rumah. Sementara mbak dan anak - anak harus tetap selalu berada dikamar masing - masing.

Karena harus berada dikamar, maka kebutuhan makan dan minum mereka, aku yang siapkan. Diantar langsung ke depan kamar. Peralatan makan minum yang sudah selesai digunakan, juga diletakkan didepan pintu kamar. Aku yang akan mengambilnya kembali. Bapak dan ibu sama sekali tidak boleh bersentuhan dengan yang sakit. Atau apapun yang sudah dipegang oleh mbak dan anak - anak. Seperti termometer dan oximeter. Bila terpaksa harus menggunakan bersamaan, maka terlebih dahulu akan disterilisasi. 

Karena jadwal makan masing - masing berbeda, maka aku akan menanyakan terlebih dahulu apakah mereka sudah akan makan atau belum. Bila pun aku ada keperluan lain, aku akan meletakkan makan dan minum didepan pintu kamar. Memberitahukan pada penghuni kamar, agar bisa diambil sesuai keinginan. Atau bila sudah keburu lapar, sementara aku belum menyiapkan, biasanya yang bersangkutan akan mengirimkan pesan via WA dan aku akan segera mengantar makanan ke kamar. Sebelas dua belas dengan room service. 😂.

Untuk obat - obatan, adek besar mengirimkan multivitamin yang bisa dikonsumsi oleh seisi rumah. Lantaran dia mengirimkan 2 dos sekaligus. Selain itu, madu pun tak pernah ketinggalan untuk diminum. Ibu biasa mencampurkannya dengan perasan jeruk nipis. Karena sakit ini disertai dengan batuk, maka ibu sengaja membuat ramuan tradisional berupa perasan jeruk nipis yang dibakar dan diperas untuk diambil airnya. Kemudian dicampur dengan madu.

Selain itu, wedang jahe pun tak pernah ketinggal. Sama seperti obat batuk yang terbuat dari perasan jeruk nipis, wedang jahe ini pun diracik sendiri oleh ibu. Berisi jahe yang digeprek, sereh dan gula merah. Minuman ini cukup untuk menghangatkan tenggorokan dan meredakan batuk.

Buah - buahan pun disiapkan untuk lebih sering dikonsumsi. Selain dalam bentuk buah utuh, tak jarang juga buah yang dijus. 

Agar proses penyembuhan berjalan dengan cepat, maka pastinya asupan makanan harus juga diperhatikan. Aku dan ibu biasanya akan menyiapkan tidak hanya makanan besar tapi juga cemilan atau snack. Karena isoman itu membuat lapar. 😀. Ibu sengaja menghindari cemilan yang digoreng. Agar tidak semakin memicu batuk. Biasanya snack yang dipanggang, rebus atau kukus. Lantaran harus menyiapkan setiap hari, tak ayal aku kehabisan ide. Dan hikmahnya, aku jadi sering mencari resep baru dan mempraktekkannya. Alhasil kemampuan 'chef' nya mulai terasah.😋.

Prinsip yang kami pegang, obat paling mujarab saat sakit tak lain dan tak bukan yaitu makan. Karena dengan cukup makan, akan cukup punya tenaga untuk melawan rasa sakit dan mempercepat proses penyembuhan. Tak heran bila kemudian aku 'memborbardir' yang sakit dengan porsi makan yang banyak. Dan harus habis. Karena bila tidak dihabiskan, maka aku akan 'berkicau' mengalahkan riuhnya suara burung. Karena sebagai perawat, aku identik dengan perawat yang galak. 😂. 
 
Posting : Bl

Komentar

Postingan Populer