Cerita Bersama Covid (Bagian Kelima)

Tiga pekan menjalani isoman, pastinya kami tetap harus memenuhi kebutuhan logistik. Walaupun tidak bisa keluar rumah, bersyukur sekali ada banyak orang baik, yang juga banyak memberi bantuan.

Dihari ketiga menjalani isoman, tetiba didepan pintu rumah ada beberapa tas berisi beragam bahan makanan. Dari mulai beras, sayuran, buah, daging ayam, bumbu dapur, juga tahu tempe dan telur. Dari pesan WA yang kuterima, ternyata ini adalah kiriman dari para tetangga. Ah, terharu sekali dan ingin menangis dengan perhatian yang begitu besarnya.

Selain itu, salah satu teman mbak, dengan komunitas yang dimilikinya, memberikan bantuan sembako pada orang - orang yang sedang menjalani isoman. Bantuan sesuai dengan apa yang kami butuhkan. Kami membuat daftar kebutuhan dan mereka akan membelanjakannya. Kemudian mengantarkan langsung ke rumah. Tanpa dipungut biaya apapun. Alias gratis.

Kemudian, salah satu sahabat keluarga pun mengirimkan madu dan rendang siap santap. 'Amunisi' tambahan untuk membuat semangat makan bagi yang sakit. Karena covid membuat indra perasa dan penciuman jadi menghilang, yang berimbas dengan selera makan yang berkurang. Atau bahkan hilang sama sekali.

Agar asupan makanan tetap dapat diterima tubuh, walau napsu makan menghilang, cara paling ampuh adalah dengan memaksakannya. Dan 'amunisi' tambahan cukup bisa membantu. Walau tak jarang tetap saja tidak ada rasa sama sekali saat menyantapnya.

Selain itu, kami juga dimudahkan dengan pemilik warung dekat rumah, yang berjualan sayur mayur dan kebutuhan sehari - hari. Saat membutuhkan sembako, aku hanya perlu mengirim daftar apa saja yang dibutuhkan. Barang akan diantar ke rumah. Pembayaran dilakukan melalui transfer bank.

Begitu juga saat membutuhkan snack atau daging ayam. Aku hanya mengirim pesan WA dan barang akan diantarkan dengan digantung dipintu pagar.

Adik - adik ibu juga memberikan dukungan yang luar biasa. Karena kami membatasi informasi tentang kondisi isoman ini pada keluarga besar dan hanya membagikannya pada dua orang adik ibu saja, maka kepada keduanya biasanya kami juga meminta bantuan. Bila membutuhkan sesuatu atau tak jarang mereka mengirimkan makanan, yang digantungkan dipintu pagar. Sebuah cara baru mengirim makanan saat isoman. 😂.

Untuk obat - obatan, adek besar yang mencarikan dan mengirimkan via kurir. Selain vitamin, juga obatan untuk bapak ibu. Kami memutuskan untuk tidak membawa keduanya untuk menjalani kontrol rutin pada bulan ini. Sehingga kebutuhan obat harus tetap kami penuhi, untuk memastikan bapak dan ibu tetap sehat. 

Bantuan dari banyak orang ini, terasa sangat meringankan, saat kadang terasa berat ketika harus menjalani isoman selama berhari - hari. Perhatian dan juga dukungan yang diberikan, seakan menjadi kekuatan yang luar biasa untuk tetap bertahan demi kembali pulih seperti sedia kala.

Posting : Bl

Komentar

Postingan Populer