Cerita Bersama Covid (Bagian kedua)
Mendapati empat orang dinyatakan postif covid dalam waktu sepekan, tak urung membuatku goyah. Karena selain itu, ada bapak ibu. Lansia dengan penyakit bawaan yang harus diwaspadai. Kami harus menjaga kestabilan emosi keduanya agar tidak kepikiran tentang penyakit yang saat itu diderita oleh 4 orang penghuni rumah. Itu sebabnya, ketika mbak dan si bungsu dinyatakan positif juga, kami tidak memberitahukan. Pada keduanya, kami hanya menyampaikan bahwa mbak dan si bungsu harus istirahat dikamar juga karena sebelumnya berinteraksi dengan si sulung.
Hal ini terpaksa kami lakukan, karena ketika pertama kali mendapat kabar si Abang positif Covid, ibu langsung syok. Tak dapat berkata - kata selama beberapa saat. Layaknya orang yang bingung. Tidak tahu harus bagaimana. Mendapati kondisi ini, aku langsung meyakinkan ibu bahwa semuanya akan baik - baik saja. Bahwa dengan isoman, prokes yang dilakukan serta asupan makan minum yang cukup, maka semuanya akan kembali sehat lagi.
Ketika si sulung pun akhirnya dinyatakan positif, ibu sudah lebih tenang. Walau rasa khawatir itu masih membayangi. Karena keponakan sulung sudah menjelang hari untuk melahirkan. Tapi lagi - lagi aku mencoba meyakinkan ibu bahwa semuanya pasti bisa teratasi atas ijin Allah. Intinya adalah menjaga emosional bapak ibu agar tetap stabil. Tidak terlalu khawatir karena dapat mempengaruhi kesehatan keduanya.
Dengan alasan menjaga stabilitas emosional bapak dan ibu inilah, akhirnya 'negosiasi' mbak dengan pihak puskesmas sebelumnya, dapat berjalan mulus. Alasannya sederhana, bila tes tetap dilakukan pada keduanya dan menunjukkan hasil postif, kami khawatir bila hal ini justru membuat bapak - ibu menjadi kepikiran. Yang bisa mempengaruhi psikologis keduanya dan berujung pada sakit. Padahal sebelumnya terlihat baik - baik saja. Selain itu juga, sejak si Abang dinyatakan positif, maka kami telah melakukan hal yang sama. Mengisolasi diri. Tidak keluar rumah. Termasuk bapak - ibu. Sehingga mbak meyakinkan pihak Puskesmas bahwa keduanya dalam kondisi sehat dan tidak perlu untuk ikut menjalani tes swab.
Untuk alasan yang sama juga, aku dan mbak merahasiakan kondisi yang terjadi terhadap keluarga besar. Kami menyimpannya dan membagikan cerita pada sedikit orang saja, Karena sudah dapat dibayangkan, bila keluarga besar mengetahui kondisi yang terjadi, maka kekhawatiran terbesar adalah pada kesehatan bapak - ibu. Dari kekhawatiran itu, akan berimbas lagi pada psikologis keduanya. Semakin banyak yang mengkhawatirkan keduanya, maka akan semakin tidak baik untuk kesehatan emosionalnya. Setidaknya, begitu pendapat aku dan mbak, hingga akhirnya kami memutuskan untuk menyimpan saja kabar ini. Dan akan memberitahukan setelah situasi dianggap sudah membaik
Intinya, kami sangat menjaga kesehatan ibu dan bapak. Memastikan keduanya tetap baik - baik saja saat tinggal dalam satu rumah dengan penderita covid adalah perhatian yang utama. Karenanya, kami berusaha meminimalisir keadaan yang membuat bapak - ibu khawatir. Kemudian membebani pikiran mereka dan membuat tidak bahagia. Bahagia keduanya dalam situasi yang tidak mudah ini, setidaknya akan memberi energi positif dan kekuatan untuk tetap sehat.
Posting : Bl
Komentar