Cerita Bersama Covid (Bagian Ke-empat)
Tiga pekan menjalani isoman, pastinya tidak mudah. Layaknya naik roller coaster, ada saatnya situasi membaik. Tapi kadang juga mengkhawatirkan. Namun dalam situasi apapun, semuanya harus terlihat baik - baik saja. Agar tidak menimbulkan kecemasan yang berlebihan. Harus terlihat kuat, walau seharusnya memang benar - benar kuat. Bukan berpura - pura kuat.
Ketika si Abang dan si Sulung dinyatakan positif covid, aku masih mampu untuk bertahan. Karena bisa berbagi tugas dengan mbak. Dia yang mengurus anak - anak. Sementara aku menjaga bapak dan ibu. Namun ketika dia pun dinyatakan positif, seketika aku merasa goyah. Karena sekarang, selain menjaga kedua orang tua, aku juga harus sehat dan kuat untuk merawat mbak dan anak - anak. Aku merasa, separuh kekuatanku hilang. Yang ada dialam bawah sadarku adalah aku harus tetap bertahan untuk mampu menopang semuanya. Untuk memastikan semuanya baik - baik saja hingga akhir isoman ini.
Ketika memberitahukan pada bapak ibu bahwa mbak harus juga menjalani isolasi di kamar, ibu sempat berkata, "Adek jangan sakit, ya. Harus sehat. Biar bisa merawat semuanya."
Seketika,
ada air mata yang ingin segera jatuh. Namun harus ditahan. Harus. Tak
boleh terlihat lemah. Tak boleh terlihat sedih dan khawatir. Harus kuat
didepan ibu. Agar beliau tenang dan tidak mempengaruhi pikirannya.
"Inshaa Allah adek sehat, bu," jawabku seraya tersenyum lebar.
Menyembunyikan perasaan yang sesungguhnya.
Dan
hari - hari panjang pun terlewati. Setiap hari mengecek suhu tubuh dan
saturasi semua penghuni rumah. Mengingatkan untuk minum vitamin. Cerewet
ini itu tentang makan yang banyak, harus dihabiskan. Jangan lupa
berjemur dan lainnya. Seketika aku menjelma menjadi perawat yang galak.
Walau sesungguhnya itu untuk menutupi segala takut dan khawatir.
Kadang
kesedihan tiba - tiba datang, tapi harus dilawan. Agar imun tubuh tetap
memproduksi 'hormon bahagia'. 😊. Sesekali menangis karena khawatir,
namun segera dipupuskan agar tidak berlarut. Membuang jauh semula
pikiran buruk. Tidak membaca postingan apapun di sosmed yang membuat
sedih, kalut, khawatir dan pikiran negatif lainnya. Memilih untuk
menyibukkan diri dengan mencoba resep masakan atau kembali membaca buku.
Puncak dari segala ketakutan dan kekhawatiran ini adalah saat si Sulung mengalami pecah ketuban diwaktu yang kurang dari sepekan HPL - nya. Kepanikan terjadi karena faskes utama tidak bisa menerima pasien covid. Jadilah malam itu, mbak yang terpaksa keluar dengan kondisi yang masih belum pulih, mengantar si Sulung untuk mencari rumah sakit bersama sang suami.
Bersyukurnya, dihari itu, Si Abang sudah selesai menjalankan isoman dan menunjukkan tanda - tanda pulih kembali. Berkeliling seputaran kota dengan kondisi si Sulung yang menahan sakit. Mencari rumah sakit yang bisa menerima ibu hamil dengan kondisi positif covid. Hingga 8 rumah sakit yang didatangi dan ditolak lantaran tidak ada fasilitas yang disediakan untuk itu. Menjelang tengah malam, akhirnya rumah sakit pusat yang ada di kota pun, dapat menerima. Karena ini merupakan salah satu rumah sakit terbesar untuk rujukan pasien covid.
Usaikah?
Ternyata belum. Kami masih diliputi dengan kecemasan. Karena butuh
waktu 2 x 24 jam hingga akhirnya si Sulung melahirkan secara normal.
Alhamdulillah. Seorang bayi perempuan hadir ditengah isoman yang kami
jalani. Lahirnya bayi mungil, yang kami panggil "Zee" ini, menjadi
penghibur yang menyenangkan dan juga membawa bahagia.
Posting : Bl
Komentar