Cerita Bersama Covid (Bagian pertama)

Pengantar : 

Ini adalah kisah tentang betapa 'seru'nya menjalani hari - hari saat harus isoman lantaran 4 anggota keluarga terindikasi positif covid. Semakin seru lagi karena salah satunya adalah ibu hamil yang tengah menunggu hari untuk melahirkan. Sementara ada 2 lansia dengan penyakit bawaan yang tinggal bersama. 

Dibuat secara berseri. Ada 6 tulisan yang akan mengisahkan bagaimana kami menjalani hari - hari selama isoman.

Dan ini adalah kisahnya....................................

Sekitar satu bulan yang lalu,

"Abang positif." Begitu mbak menyampaikan tentang kondisi menantunya pagi ini. 

Beberapa hari ini, suami keponakan sulung ini, mengalami demam dan panas yang tinggi serta batuk. Dia baru saja pulang dari sebuah perjalanan ke luar kota. Khawatir terjadi sesuatu, maka tes swab pun dilakukan. Dan terbukti. Si Abang, begitu kami biasa menyapanya, dinyatakan positif covid dan harus melakukan isolasi mandiri alias isoman selama 14 hari.

Didetik pertama mendengar kabar ini, rasa terkejut begitu menyergap. Walau sebelumnya sudah sempat menduga. Tapi tak menyangka bahwa dugaan itu benar. Didetik berikutnya, ketika kesadaran mulai terkumpul kembali, keputusan menentukan kamar mana yang akan dijadikan ruang isoman pun diambil. Kamar Adek besar pun dipilih. Karena kamar ini kosong dan hanya ditempati saat dia pulang saja.

Maka disanalah isolasi dilakukan. Semua kegiatan dilakukan dikamar. Si Abang hanya keluar saat akan berjemur dipagi hari. Makanan dan minuman diletakkan didepan pintu. Peralatan makannya dipisahkan dengan yang lain.

Lima hari berlalu, giliran sang istri, keponakan cantik yang sulung mengalami gejala yang sama. Panas tinggi, demam dan batuk - batuk. Test pun dilakukan. Hasilnya seperti juga sudah diperkirakan. Dia pun positif. Maka isolasi pun dilakukan. Selayaknya sang suami. Hanya saja, karena kamar yang digunakan calon ibu ini tak ada kamar mandi didalam, maka saat keluar untuk ke kamar mandi, dia wajib menggunakan masker. Selain itu, dia tidak boleh menyentuh barang apapun yang ada diluar kamar. Kamar mandinya pun tidak boleh digunakan oleh penghuni rumah yang lain. 

Setelah keponakan sulung dinyatakan positif juga, kami menyadari ada kesalahan yang telah dilakukan. Kami tidak melakukan isolasi sejak awal terhadapnya. Seharusnya, ketika sang suami telah dinyatakan positif, dia pun harus melakukan isoman. Karena melakukan kontak erat dengan suaminya. Saat si Abang menjalani isoman, keponakan sulung yang tengah menghitung hari untuk melahirkan ini, justru banyak berinteraksi dengan mbak dan si bungsu. Alhasil sepekan kemudian, mbak dan putri bungsunya pun dinyatakan positif covid setelah melakukan test swab. Test ini dilakuan melalui proses tracing.

Proses tracing dilakukan setelah mbak melapor pada RT setempat tentang kondisi menantu dan putrinya yang menderita covid. Dari RT kemudian dihubungkan dengan pihak Puskesmas tempat kami berdomisili. Awalnya tracing diminta untuk dilakukan pada seluruh anggota keluarga. Tapi setelah melalui proses 'negoisasi' yang cukup alot, akhirnya tes swab hanya dilakukan pada aku, mbak dan si bungsu. Tanpa bapak ibu. Hasilnya, mbak dan putri bungsunya dinyatakan positif. Sementara aku negatif.

Dari hasil tes ini, isoman dilakukan. Mereka berdua pun menyusul untuk berdiam dikamar masing - masing. Tidak berinteraksi satu sama lain. Bila harus keluar kamar untuk berjemur, maka masker tak boleh lepas. Selain itu, karena kamar si bungsu tanpa dilengkapi kamar mandi, maka untuk keperluan itu, dia harus bergabung dengan sang ibu, yang dikamarnya tersedia kamar mandi. Dan masing - masing tetap harus menjalankan prokes meski sama - sama dinyatakan positif covid. Karena gejala yang dirasakan keduanya berbeda. Mbak dengan disertai batuk, demam, pusing, suhu tubuh yang meninggi. Sementara si bungsu hanya batuk saja. Tanpa gejala lainnya. Sehingga dia relatif terlihat lebih sehat. 

Posting : Bl

Komentar

Postingan Populer