Panen Perdana

Sudah beberapa hari ini, aroma durian yang khas merebak dari halaman belakang rumah.

"Duriannya harum banget," ujarku pada ibu seraya menghirup udara pagi menjelang subuh. 

Saat itu kami tengah menunggu adzan subuh di mushola rumah. Dari sini, kebun belakang terlihat dengan jelas, karena hanya dibatasi oleh pintu besi saja. Tak heran bila harum durian itu pun mampu menyeruak hingga ke dalam rumah.

"Iya," jawab ibu. "Tapi belum ada tanda - tanda mau jatuh," lanjut beliau.

Tanda bahwa durian ini sudah masak adalah dengan lepas dari tangkainya dan jatuh. Untuk menghindari durian pecah karena jatuh, beberapa waktu sebelumnya, aku dan mbak sudah membuat 'sangkar' untuk masing - masing buah, yang terbuat dari tali plastik.

"Siap - siap panen perdana, nih," candaku seraya tertawa. Karena ada 2 buah durian yang sudah mengeluarkan harumnya. "Anang pasti sedih banget, tuh. Padahal dia yang ingin sekali merasakan panen durian," ujarku.

Lantaran pandemi yang tak kunjung usai, adek besar pun tak kunjung pulang. Padahal setiap kali dia melakukan sambungan video ke rumah, salah satu topik hangat yang dibahas adalah tentang buah durian ini.

"Ntar kalau panen, dipamerin ajah," ibu memberi usul. Dan kami tertawa geli membayangkan 'niat jahat' ini. 😂.

Maka, ketika keesokan harinya buah durian itu benar - benar matang dan lepas dari tangkainya, jadilah isi postingan di WAG keluarga, membuat adek besar 'bersedih". Lantaran dia hanya bisa menyaksikan photo dan video saat kami makan durian. Hasil panen perdana setelah 10 tahun yang lalu pohon ini ditanam. 

Semoga tahun depan, masih diberi kesempatan untuk kembali merasakan panen durian. Dengan buah yang lebih banyak lagi.

Posting : Bl


Komentar

Postingan Populer