Kapan Pulang?
Berbulan harus berada di rumah saja, itu pastilah membosankan. Bila pun
keluar, hanya disekitaran rumah. Maka dengan pertimbangan yang sangat
hati - hati, dibulan ke 8 setelah pandemi, kami - aku dan mbak - membawa
bapak ibu berjalan - jalan keluar rumah.
Pilihannya adalah pantai.
Mengapa?
Lokasi yang terletak dialam terbuka, dirasa aman dalam situasi
sekarang. Selain itu, waktu yang dipilih, tidak biasa. Yaitu pagi hari,
seusai shalat Subuh. Saat pantai masih begitu sepi. Sebelum nanti pantai
menjadi ramai, kami sudah pulang. Meninggalkan pantai.
Dan semalam...
"Besok kita ke pantai, ya Pak," mbak memberitahu. "Sarapan pagi kayak biasanya."
Ini akan jadi kali ketiga kami ke pantai dalam dua bulan terakhir.
"Bapak senengnya ke pantai yang jalannya belok - belok," ujar bapak.
Beberapa detik, aku dan mbak saling pandang. Mencoba memahami apa yang diinginkan bapak.
Hingga ...
"Kalau itu pantai di Gunung Kidul, Pak," jelasku.
"Mbak gak berani nyetirnya, kalau jalannya belok - belok," tambah mbak.
"Kita
harus tunggu Anang pulang dulu. Khan biasanya Anang yang sering
mengajak kita jalan - jalan ke pantai di Gunung Kidul," jelasku.
Jadi,
dalam banyak kesempatan pergi ke pantai, Adek besar selalu membawa kami
ke pantai - pantai yang ada di Gunung Kidul. Ada saja pantai baru yang
dikenalkannya pada kami. Pantai yang masih sepi dan belum banyak dikenal
orang.
Tak heran bila bapak lebih menyukai pantai - pantainya.
"Jadi, besok kita ke pantai di Bantul ajah, ya Pak," pungkas mbak mengakhiri pembicaraan.
Pantai
di Bantul adalah pilihan mbak dengan alasan yang sangat sederhana.
Jalannya lurus - lurus saja. Sehingga tidak menyulitkan mbak saat
mengendarai mobil. .
Bapak hanya diam saja. Tak memberi jawaban apapun.
Jadi Anang.... kapan pulang ke Jogja? .
Posting : Kn
Komentar