Sprei Perca

Salah satu hobi yang masih kutekuni saat ini adalah menjahit. Kala senggang, aku biasa membongkar - bongkar lemari dan mengubah tampilan baju lama menjadi baru. Atau mereka - reka model baju baru ketika ada bahan yang masih tersimpan. Tak heran bila akhirnya ada banyak perca, sisa kain yang tak terpakai. 

Saat masih kuliah, aku pernah memiliki selimut yang kubuat dari kain perca yang kujahit sendiri. Dan beberapa waktu lalu, saat membongkar kotak penyimpanan kain perca, aku menemukan beberapa potongan kain yang cukup lebar. Maka terbersitlah sebuah ide...

"Ngapain?" tanya mbak ketika aku tengah memilah dan memilih kain perca.

"Ini lho, banyak banget kain perca. Adek pengen bikin sprei," aku menjelaskan.

"Kainnya cukup? Sprei butuh kain yang banyak lho."

"Semoga," jawabku seraya nyengir kuda lantaran tak yakin.

Maka dimulailah proses pembuatan sprei ini. Dimulai dengan memilih kain yang masih bisa digunakan. Dan tak terbayangkan bila memilih kain perca ini menimbulkan 'keputusasaan'. Karena beberapa kain terpotong dengan bentuk yang tak beraturan. Agar mendapat bentuk yang simetris, aku harus terlebih dahulu menyambungkannya sebelum akhirnya disatukan dengan kain yang lain. 

Selain itu, ukuran sprei yang cukup lebar, membutuhkan kain perca yang tidak sedikit. Padahal aku membutuhkan kain dengan banyak motif. Bukan hanya yang polos. Hingga ketika akhirnya bahan motif ini sudah tak tersisa lagi, aku pun memutuskan untuk menyambungnya dengan bahan polos. Walau sedikit kecewa, tapi aku tetap menggunakan bahan polos ini.

Kendala lain yang kutemui adalah saat proses menjahitnya. Ternyata, dibutuhkan kesabaran untuk menyatukan satu persatu kain ini. Ketika sudah semakin lebar sambungannya, maka semakin sulit juga menjahitnya. 

Dan setelah melalui segala rintangan, akhirnya 2 pekan kemudian, sprei baru ini sudah bisa terpasang. Terbayarkan sudah segala kelelahan selama ini. Sepintas sepertinya sprei ini tak terlihat dari beragam bahan perca. 😉.

Posting : Bl

Komentar

Postingan Populer