Silaturahim

Salah satu 'kebiasaan baik' yang tak dapat dilakukan saat pandemi berlangsung adalah silaturahim.

Sebelum pandemi, keluarga besar dari garis bapak dan ibu memiliki jadwal rutin silaturahim. Dari garis bapak setiap 3 bulan sekali. Sedangkan dari ibu, sebulan sekali.

Namun ketika pandemi terjadi sejak 8 bulan lalu, maka silaturahim ini diganti dengan sambungan telpon, video call atau zoom meeting serta pesan WA. Kami tetap bisa bercanda, saling sapa tapi tetap ada yang kurang. Raga yang tak bertemu untuk melepas rindu.

Pandemi membuat kami melewatkan acara buka puasa bersama yang selalu diisi dengan kesyahduan Ramadhan. Juga meniadakan saling kunjung ketika Idul Fitri datang. Dan rindu itu begitu menumpuk. Satu kota, tapi tak bisa saling bersua.

Maka dipuncak kerinduan ini, ketika tak lagi tertahankan, keinginan bertemu raga pun disampaikan. Lokasi pertemuan dipilih ditempat terbuka. Dengan tetap semaksimal mungkin mematuhi protokol kesehatan.

Dan dihari ini, di Pantai Baru, akhirnya kami bisa bercengkrama satu dengan lainnya. Bercanda dari yang receh hingga tak jelas sama sekali. Tawa pecah seiring dengan suara debur ombak yang sampai ke pantai. Memaknai kebersamaan sebagai rasa syukur padanya.

Tak lengkap memang. Tapi setidaknya, yang separuh ini mampu menuntaskan rindu yang tertahan. Karena silaturahim membawa kebahagiaan.

Tetap sehat. Tetap semangat. Agar ketika pandemi berlalu, kita bisa silaturahim lagi bersama sahabat dan kerabat. 😍.


Posting : Kn

 

Komentar

Postingan Populer