Malu

Aku dan mbak memiliki kebiasaan berkendaraan yang bertolak belakang. Terutama berhubungan dengan kecepatan saat berkendara.  

Aku biasa menggunakan kecepatan yang stabil dikisaran 40km / jam. Yang itu artinya 'pelan - pelan saja'. Tak heran bila beberapa orang enggan berada dibelakang boncenganku. Karena terlalu lambat dan entah kapan sampainya, begitu alasan mereka. Dan itu 'menguntungkan' untukku. Aku bisa duduk santai diboncengan tanpa harus berkonsentrasi pada jalanan yang ramai. 

Sementara mbak adalah sebaliknya. Berada diboncengannya, membuatku harus banyak berdo'a. Dia seperti pembalap. Remnya hanya berfungsi dalam keadaan 'terpaksa', 'kepepet, dan 'dalam kondisi darurat'. 😁. Selebihnya, hanya gas, gas dan gas lagi.

Dulu, aku sering protes. Tapi belakangan, ketika harus berkendara dengannya, aku memilih untuk banyak berdo'a saja. Biar selamat. 😄. Seperti juga hari ini, saat kami berdua berboncengan keluar rumah, untuk suatu keperluan.

"Pelan aja, sih mbak. Khan kita gak diburu apapun," protes kecilku dari belakang.

"Ini sudah pelan yooo," jawab mbak dengan tetap tidak menurunkan kecepatan.

"Di depan sudah lampu merah lho," aku mengingatkan.

"Iya tahu! Cerewet banget," Ketus mbak menjawab, lalu menghentikan kendaraan.

"Kok berhenti disini, mbak? Ini khan ruang untuk sepeda?" aku mengingatkannya. Saat itu kami berhenti tepat dijalan bercat hijau. Yang diatasnya tertulis 'Ruang Sepeda'. Itu berarti, hanya sepeda saja yang diperbolehkan berhenti ditempat tersebut.

"Iya tho? Gak papa lah. Sudah terlanjur," jawabnya santai.

Hadegh. Gini, nih kalau berkendara tidak taat aturan. 😏.

Untuk beberapa saat kemudian, aku berpura - pura sibuk dengan handphone lantaran sudah malu duluan dengan pengendara lainnya. 

Mbakku benar - benar 'ajaib'. 😂.

Posting : Bl



Komentar

Postingan Populer