Durian Runtuh
Sejak pohon durian dibelakang rumah mulai berbunga, kemudian berbuah,
lalu beberapa jatuh berguguran, sementara yang lainnya mampu bertahan,
maka cerita dan beritanya diumumkan ke seluruh penjuru mata angin.
Sehingga sepupu - sepupuku pun 'turut berharap' bisa ikutan panen
durian.
.
Agar adil dan merata, seraya bercanda, mbak menandai satu persatu buah yang bertahan dengan nama - nama sepupuku.
Maka semalam ketika hujan turun begitu derasnya...
"Duriannya jatuh satu!" Seru mbak saat pagi hari membuka pintu belakang. Dia segera beranjak mengambil durian kecil yang sudah mengeluarkan aroma khas buah para dewa ini.
"Ini duriannya mas...," mbak menyebutkan salah satu nama mas sepupuku.
Aku dan ibu tergelak. Kasihan sekali mas sepupuku. Secara sepihak mbak sudah memupuskan harapannya untuk ikutan panen durian.
.
Tak lama berselang..
"Ini duriannya jatuh lagi," bapak memberitahu seraya menyodorkan dua buah durian.
"Jatuh lagi?" Mbak tampak kecewa. Komputer dikepalanya langsung membuat operasi pengurangan jumlah durian dipohon. "Sekarang buahnya tinggal duabelas," ujarnya.
"Yang ini durian punya mbak...," kembali dia menyebutkan nama salah satu sepupuku.
"Curang!" Kata ibu sambil tertawa. "Semua yang jatuh punya orang lain."
Sambil ikutan tertawa geli, aku pun memberi usul, "Yang satunya punya Anang, mbak."
Aku ingat, kemarin dia begitu berharap bisa ikutan panen durian.
.
Begitu besarnya antusias menyambut panen kali ini, hingga saudara sendiri pun 'dikorbankan' agar tak turut serta dalam panen yang hanya segitu - gitunya.
.
Semoga ini buah terakhir yang jatuh sebelum masak dipohon. Agar tahun ini, mimpi untuk panen durian, benar - benar terwujud.
.
Agar adil dan merata, seraya bercanda, mbak menandai satu persatu buah yang bertahan dengan nama - nama sepupuku.
Maka semalam ketika hujan turun begitu derasnya...
"Duriannya jatuh satu!" Seru mbak saat pagi hari membuka pintu belakang. Dia segera beranjak mengambil durian kecil yang sudah mengeluarkan aroma khas buah para dewa ini.
"Ini duriannya mas...," mbak menyebutkan salah satu nama mas sepupuku.
Aku dan ibu tergelak. Kasihan sekali mas sepupuku. Secara sepihak mbak sudah memupuskan harapannya untuk ikutan panen durian.
Tak lama berselang..
"Ini duriannya jatuh lagi," bapak memberitahu seraya menyodorkan dua buah durian.
"Jatuh lagi?" Mbak tampak kecewa. Komputer dikepalanya langsung membuat operasi pengurangan jumlah durian dipohon. "Sekarang buahnya tinggal duabelas," ujarnya.
"Yang ini durian punya mbak...," kembali dia menyebutkan nama salah satu sepupuku.
"Curang!" Kata ibu sambil tertawa. "Semua yang jatuh punya orang lain."
Sambil ikutan tertawa geli, aku pun memberi usul, "Yang satunya punya Anang, mbak."
Aku ingat, kemarin dia begitu berharap bisa ikutan panen durian.
Begitu besarnya antusias menyambut panen kali ini, hingga saudara sendiri pun 'dikorbankan' agar tak turut serta dalam panen yang hanya segitu - gitunya.
Semoga ini buah terakhir yang jatuh sebelum masak dipohon. Agar tahun ini, mimpi untuk panen durian, benar - benar terwujud.
Posting : Kn

Komentar