Lelah
Enam bulan tak berjumpa secara phisik lantaran pandemi, walau tinggal
dalam satu kota, hari ini kami mengajak bapak dan ibu mengunjungi salah
satu adik ibu.
Karena melalui jalan yang searah, bapak meminta untuk juga mengunjungi salah satu adik sepupuku, yang baru saja melahirkan putri keduanya. Maka jadilah silaturahim ini berlangsung diteras rumah saja.
Saat akan melanjutkan perjalanan, aku meminta ijin pada adik sepupuku untuk mengajak serta putri sulungnya.
"Beneran mau diajak, mbak?" Tanya adik sepupuku. Serius. "Soalnya belum pernah, tuh diajak orang lain," lanjutnya.
"Inshaa Allah gak papa," aku menenangkan. Tak lupa aku juga meminta dia untuk tidak merasa khawatir. Supaya putrinya tidak rewel saat tidak bersama orang tuanya.
Singkat cerita, maka keponakanku ini ikut bersama kami. Begitu memasuki kendaraan, cengkeraman tangannya begitu kuat memelukku. Untuk mengalihkan perhatiannya, akupun melakukan monolog. Berbicara tentang apa saja. Mengomentari segala hal yang terlihat disepanjang perjalanan.
Dia tidak menyahut ataupun merespon ceritaku. Wajahnya tersembunyi didadaku. Hingga tak sampai lima menit kemudian, bocah imut ini tertidur dalam pelukanku.
"Tidur, ya?" Tanya mbak.
Aku hanya mengangguk seraya tersenyum.
"Kayaknya Kania pusing, deh dengerin budenya ngomong terus dari tadi," mbak mulai membuat analisa. "Makanya dia pilih tidur ajah dari pada tambah pusing."
Aku tergelak mendengarnya.
Teringat dulu saat di sekolah dan berhadapan dengan anak yang menangis, maka aku pun akan 'berkicau' tanpa henti. Hingga akhirnya si anak pun tertidur karena lelah. Lelah menangis, juga lelah mendengarkan suaraku.
.
Karena melalui jalan yang searah, bapak meminta untuk juga mengunjungi salah satu adik sepupuku, yang baru saja melahirkan putri keduanya. Maka jadilah silaturahim ini berlangsung diteras rumah saja.
Saat akan melanjutkan perjalanan, aku meminta ijin pada adik sepupuku untuk mengajak serta putri sulungnya.
"Beneran mau diajak, mbak?" Tanya adik sepupuku. Serius. "Soalnya belum pernah, tuh diajak orang lain," lanjutnya.
"Inshaa Allah gak papa," aku menenangkan. Tak lupa aku juga meminta dia untuk tidak merasa khawatir. Supaya putrinya tidak rewel saat tidak bersama orang tuanya.
Singkat cerita, maka keponakanku ini ikut bersama kami. Begitu memasuki kendaraan, cengkeraman tangannya begitu kuat memelukku. Untuk mengalihkan perhatiannya, akupun melakukan monolog. Berbicara tentang apa saja. Mengomentari segala hal yang terlihat disepanjang perjalanan.
Dia tidak menyahut ataupun merespon ceritaku. Wajahnya tersembunyi didadaku. Hingga tak sampai lima menit kemudian, bocah imut ini tertidur dalam pelukanku.
"Tidur, ya?" Tanya mbak.
Aku hanya mengangguk seraya tersenyum.
"Kayaknya Kania pusing, deh dengerin budenya ngomong terus dari tadi," mbak mulai membuat analisa. "Makanya dia pilih tidur ajah dari pada tambah pusing."
Aku tergelak mendengarnya.
Teringat dulu saat di sekolah dan berhadapan dengan anak yang menangis, maka aku pun akan 'berkicau' tanpa henti. Hingga akhirnya si anak pun tertidur karena lelah. Lelah menangis, juga lelah mendengarkan suaraku.
Posting : Kn

Komentar