Kursi Kecil

Ketika akhirnya sekolah diputuskan untuk ditutup selamanya, salah satu hal yang masih terasa sulit untuk dilakukan adalah 'move on' dari semua kisah bersama anak - anak.

Belasan tahun, pastinya ada banyak cerita. Cerita yang berwujud file - file photo dari tahun ke tahun. Cerita yang juga berupa jalinan kata yang terangkai dalam kalimat panjang berparagraf - paragraf distatus Fb, blog pribadi dan feed Ig.

Tak terkecuali barang - barang yang selama ini digunakan anak - anak.

Sekolah memberi keleluasaan pada ibu guru untuk menyimpan barang inventaris yang diinginkan. Dan aku memilih menyimpan sebagian kecil koleksi buku cerita serta 2 buah kursi kecil ini.

Entah sudah berapa banyak anak yang menduduki kursi mungil yang terbuat dari kayu ini. Untuk makan siang, untuk belajar. Kadang juga untuk bermain kereta - keretaan. Sesekali menjadi 'kanvas', tempat menuangkan ide menggambar mereka. 😀.

Diwaktu lain, jadi sarana pertengkaran. Lantaran merebutkan kursi yang sama. Sementara masih ada kursi lain yang dibiarkan begitu saja.

Satu dari 16 kursi yang ada saat itu, menjadi 'singgasana' tetapku, saat aku sibuk dengan beragam dokumen yang harus dipindahkan dalam bentuk file dikomputer.

Dan saat ini, aku meletakkan kursi kenangan dikedua sisi tempat tidur. Sesekali duduk disana seraya mengurai lagi cerita yang pernah ada. Mengingat keseruan anak - anak saat bermain. Karena biasanya, ibu guru akan mengawasi mereka sambil duduk dikursi kecil ini.

Tak mudah untuk beranjak dari kenangan indah yang pernah ada. Tak akan pernah mudah. Namun seiring waktu, kenangan ini akan berubah menjadi cerita. Cerita yang walaupun ada terselip sedih, tapi akan lebih banyak tawanya.

Mengapa?
Karena cerita tentang anak - anak, selalu saja membawa aura bahagia, tawa dan ceria.

Maka, setiap kenangan akan tersimpan dengan baik, untuk menjadi cerita manis nantinya. 😍.

(Dan dimana pun saat ini kalian berada, tetaplah menjadi sholeh dan sholehah, Nak. Love you...)

Posting : Kn

Komentar

Postingan Populer