Ketika Panen Nanti
Jadi.. begini
Dihalaman belakang rumah, bapak menanami banyak pohon buah. Rambutan, pisang, mangga, durian, jeruk, anggur dan entah apa lagi.
.
Ketika panen buah - buahan, kebiasaan baik yang diajarkan bapak - ibu pada kami adalah berbagi dengan tetangga. Sesedikit apapun, tidak mengapa. Yang penting ... berbaginya.
.
Tapi... ketika pohon durian berbunga, lalu berbuah dan saat ini buahnya sudah mulai membesar serta menampakkan tanda - tanda akan masak dipohon, sebuah 'masalah' tiba - tiba melintas.
"Kalau nanti kita panen durian, gimana bagi - baginya, ya Bu?" Aku bertanya dengan nada bercanda pada ibu. Karena terasa sulit untuk berbagi lantaran durian yang ada dipohon hanya beberapa buah saja.
Prinsip berbagi walau hanya sedikit, rasanya sulit diwujudkan ketika nanti panen buah durian.
"Biar semua kebagian, nanti dibikin bubur durian ajah," usul ibu seraya tertawa.
Bubur durian ini biasanya dimakan dengan ketan. Daging durian dimasak dengan air sehingga berbentuk kuah yang kemudian disiramkan pada ketan yang sudah dikukus.
"Gak enak, bu. Adek gak suka," aku menolak usul yang diberikan ibu.
"Ya sudah. Dibikin es balon ajah," putus ibu.
Aku mengiyakan seraya tertawa geli. Betapa kuatnya do'a yang dilangitkan untuk terwujudnya keinginan panen durian terjadi. Bahkan rencana pun telah diputuskan walau setiap hari masih deg - degan, khawatir durian itu jatuh sebelum waktunya.
.
Tapi, bila pun nanti rencana itu tidak terwujud, setidaknya sudah pernah diberitahukan bahwa pernah ada sebuah 'rencana tulus' sehubungan dengan panen durian.
(Semangat melangitkan do'a dan menderaskan pinta untuk panen buah durian pertama setelah 10 tahun ditanam.
)Posting : Kn
Dihalaman belakang rumah, bapak menanami banyak pohon buah. Rambutan, pisang, mangga, durian, jeruk, anggur dan entah apa lagi.
Ketika panen buah - buahan, kebiasaan baik yang diajarkan bapak - ibu pada kami adalah berbagi dengan tetangga. Sesedikit apapun, tidak mengapa. Yang penting ... berbaginya.
Tapi... ketika pohon durian berbunga, lalu berbuah dan saat ini buahnya sudah mulai membesar serta menampakkan tanda - tanda akan masak dipohon, sebuah 'masalah' tiba - tiba melintas.
"Kalau nanti kita panen durian, gimana bagi - baginya, ya Bu?" Aku bertanya dengan nada bercanda pada ibu. Karena terasa sulit untuk berbagi lantaran durian yang ada dipohon hanya beberapa buah saja.
Prinsip berbagi walau hanya sedikit, rasanya sulit diwujudkan ketika nanti panen buah durian.
"Biar semua kebagian, nanti dibikin bubur durian ajah," usul ibu seraya tertawa.
Bubur durian ini biasanya dimakan dengan ketan. Daging durian dimasak dengan air sehingga berbentuk kuah yang kemudian disiramkan pada ketan yang sudah dikukus.
"Gak enak, bu. Adek gak suka," aku menolak usul yang diberikan ibu.
"Ya sudah. Dibikin es balon ajah," putus ibu.
Aku mengiyakan seraya tertawa geli. Betapa kuatnya do'a yang dilangitkan untuk terwujudnya keinginan panen durian terjadi. Bahkan rencana pun telah diputuskan walau setiap hari masih deg - degan, khawatir durian itu jatuh sebelum waktunya.
Tapi, bila pun nanti rencana itu tidak terwujud, setidaknya sudah pernah diberitahukan bahwa pernah ada sebuah 'rencana tulus' sehubungan dengan panen durian.
(Semangat melangitkan do'a dan menderaskan pinta untuk panen buah durian pertama setelah 10 tahun ditanam.

Komentar