Durian
Ini... entahlah sudah menjadi cerita untuk yang keberapa kalinya. Karena aku selalu menceritakannya setiap tahun. Pun kali ini.
Ini tentang pohon durian dihalaman belakang rumah.
Selain pohon mangga dan rambutan, tanaman keras lainnya yang ditanam bapak dihalaman belakang adalah pohon durian. Bibitnya didapat dari salah satu adik ibu di Lampung, sekitar 10 tahun lalu. Ada 2 pohon.
Sejak beberapa tahun belakangan, pohon durian ini mulai belajar 'memberi harapan' pada kami.
.
Diawali dengan berbunga yang teramat sangat banyak. Dan kemudian gugur satu persatu. Lalu ditahun berikutnya, belajar berbuah. Hanya 3 saja. Sebesar ujung kelingking. Tak lama pun gugur juga.
Begitu beberapa kali. Hingga salah satu adik sepupu memberikan saran. Menaburi sekitar pohon dengan pupuk yang berfungsi untuk menguatkan buah. Saran yang baru dilakukan tahun ini.
Mbak membeli pupuk dalam hitungan kilogram. Karena satu pohon setidaknya diberi 1 kilogram pupuk. Untuk menanamkan pupuknya, mbak tidak mau melakukannya sendiri.
"Biar ibu saja. Tangan ibu, khan dingin. Inshaa Allah ntar duriannya jadi kuat," begitu alasan mbak ketika kutanya 'mengapa tak kunjung pupuknya ditanamkan ke sekitar pohon'.
.
Dan waktu bergulir beberapa pekan, tampaknya pupuk ini sudah mulai bekerja. Bunga yang berganti wujud menjadi buah mulai terlihat disana sini. Tak hanya satu dua. Tapi dalam jumlah belasan.
Setiap pagi, seraya menyapu daun - daun yang jatuh, do'a dan harapan dilangitkan. Semoga buah - buah itu terus bertahan didahan hingga masak dan siap santap. Tak hanya itu, ketika melihat ada buah yang gugur, maka kembali lautan doa dipintakan. Semoga itu buah terakhir yang jatuh.
.
Begitu besar harapan agar tahun ini bisa merasakan panen durian dari kebun sendiri. Rencana - rencana pun dibuat bila nanti keinginan ini terkabul.
Salah satunya....
"Anang, kapan pulang?" Tanyaku pada adek besar yang semalam melakukan panggilan video ke rumah.
"Gak tahu," jawabnya. Seperti biasa. Yeah.. pandemi yang tak kunjung berakhir, membuat kepulangannya pun menjadi tak pasti.
"Ntar pulangnya, pas panen durian ajah," usul bapak yang disambut dengan gelak tawa aku dan ibu.
Ah, bapak. Besar kali, harapannya. Tidak hanya berharap satu durian saja yang masak. Tapi banyak alias panen.
.
Oklah. Kita tunggu beberapa bulan ke depan. Semoga mimpi dan harapan ini benar adanya.
.
Semangat melangitkan do'a.....
...
Ini tentang pohon durian dihalaman belakang rumah.
Selain pohon mangga dan rambutan, tanaman keras lainnya yang ditanam bapak dihalaman belakang adalah pohon durian. Bibitnya didapat dari salah satu adik ibu di Lampung, sekitar 10 tahun lalu. Ada 2 pohon.
Sejak beberapa tahun belakangan, pohon durian ini mulai belajar 'memberi harapan' pada kami.
Diawali dengan berbunga yang teramat sangat banyak. Dan kemudian gugur satu persatu. Lalu ditahun berikutnya, belajar berbuah. Hanya 3 saja. Sebesar ujung kelingking. Tak lama pun gugur juga.
Begitu beberapa kali. Hingga salah satu adik sepupu memberikan saran. Menaburi sekitar pohon dengan pupuk yang berfungsi untuk menguatkan buah. Saran yang baru dilakukan tahun ini.
Mbak membeli pupuk dalam hitungan kilogram. Karena satu pohon setidaknya diberi 1 kilogram pupuk. Untuk menanamkan pupuknya, mbak tidak mau melakukannya sendiri.
"Biar ibu saja. Tangan ibu, khan dingin. Inshaa Allah ntar duriannya jadi kuat," begitu alasan mbak ketika kutanya 'mengapa tak kunjung pupuknya ditanamkan ke sekitar pohon'.
Dan waktu bergulir beberapa pekan, tampaknya pupuk ini sudah mulai bekerja. Bunga yang berganti wujud menjadi buah mulai terlihat disana sini. Tak hanya satu dua. Tapi dalam jumlah belasan.
Setiap pagi, seraya menyapu daun - daun yang jatuh, do'a dan harapan dilangitkan. Semoga buah - buah itu terus bertahan didahan hingga masak dan siap santap. Tak hanya itu, ketika melihat ada buah yang gugur, maka kembali lautan doa dipintakan. Semoga itu buah terakhir yang jatuh.
Begitu besar harapan agar tahun ini bisa merasakan panen durian dari kebun sendiri. Rencana - rencana pun dibuat bila nanti keinginan ini terkabul.
Salah satunya....
"Anang, kapan pulang?" Tanyaku pada adek besar yang semalam melakukan panggilan video ke rumah.
"Gak tahu," jawabnya. Seperti biasa. Yeah.. pandemi yang tak kunjung berakhir, membuat kepulangannya pun menjadi tak pasti.
"Ntar pulangnya, pas panen durian ajah," usul bapak yang disambut dengan gelak tawa aku dan ibu.
Ah, bapak. Besar kali, harapannya. Tidak hanya berharap satu durian saja yang masak. Tapi banyak alias panen.
Oklah. Kita tunggu beberapa bulan ke depan. Semoga mimpi dan harapan ini benar adanya.
Semangat melangitkan do'a.....
Posting : Kn

Komentar